Emelda

Try my best for the best I might not be the best But surely.... I can do thing well...

Selengkapnya
Navigasi Web
Part 2 . Perubahan Hidup yang Drastis
Antara Sepi dan harapan Part 2

Part 2 . Perubahan Hidup yang Drastis

Hari-hari setelah kepergian suamiku terasa begitu berat dan suram, seolah-olah aku sedang melangkah dalam kegelapan yang tak berujung. Setiap pagi yang dulu selalu dipenuhi dengan kehangatan senyumnya kini berubah menjadi kehampaan yang menyakitkan. Saat terbangun, aku kerap merasakan kekosongan yang mendalam, dengan tangan yang refleks meraba sisi tempat tidur yang kini tak lagi dihuni oleh kehadirannya. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa ruang yang dulu dipenuhi oleh keberadaannya kini hanya menyisakan keheningan.

Di meja makan, hanya ada aku dan piring yang setengah terisi, menandakan betapa sulitnya aku menikmati makanan sendirian. Suara ceria yang dulu selalu menyapa setiap pagi kini telah sirna, digantikan oleh keheningan yang begitu menyiksa. Aku sering duduk berlama-lama di sana, tidak sekadar makan, tetapi larut dalam lamunan yang tak berujung. Cangkir teh yang kuletakkan di depanku sering kali dibiarkan mendingin, bahkan tanpa satu tegukan pun, seolah kehilangan rasa dan makna.

Pikiranku selalu kembali pada kenangan saat dia masih ada, duduk di seberangku dengan senyum hangat yang menguatkanku untuk memulai hari. Dia selalu punya cara untuk membuat pagi terasa lebih ringan, entah dengan candaan kecil, cerita menarik, atau sekadar gumaman lembut yang penuh kasih sayang. Kini, hanya bayangannya yang menemani, dan itu tak cukup untuk mengusir rasa sepi yang semakin merajalela.

Aku rindu melihat caranya menyendok nasi dengan tenang, mendengar suaranya menyebutkan rencana-rencana sederhana yang akan kami lakukan bersama hari itu. Tapi kini, semua itu hanya ada dalam ingatan. Rasanya seperti melihat hidupku dari balik kaca buram—ada kenangan indah yang ingin kugapai, tetapi mereka terlalu jauh, terlalu sulit untuk kembali kurasakan.

Aku sering bertanya-tanya, kapan rasa kehilangan ini akan berkurang? Kapan aku bisa menikmati pagi tanpa merasa ada yang hilang? Namun, setiap kali pertanyaan itu muncul, yang kurasakan hanyalah rindu yang semakin dalam, dan kesunyian yang semakin menekan. Meja makan ini, yang dulu menjadi tempat bercengkerama, kini menjadi saksi bisu dari kehampaan hidupku.

Semangatku perlahan memudar, seperti lilin yang kehabisan sumbu di tengah malam. Pekerjaan yang dulu menjadi pelarianku dari segala penat kini berubah menjadi beban yang terasa terlalu berat untuk kupikul. Setiap pagi, aku duduk di meja kerjaku, menatap lembaran-lembaran laporan yang menumpuk, tetapi tanganku tak mampu bergerak untuk menyelesaikannya. Pikiran yang dulu penuh dengan ide-ide segar kini terasa kosong, seperti aliran sungai yang tiba-tiba mengering.

Aku mencoba menyibukkan diri, berharap rutinitas kerja bisa mengalihkan rasa sakit ini. Namun, setiap kali aku mencoba, aku justru merasa semakin terjebak dalam rasa lelah yang tak berujung. Rekan-rekan kerjaku mulai menyadari perubahan ini. Mereka bertanya dengan nada khawatir, "Kamu baik-baik saja, kan?" Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman lemah, senyuman yang kuharap cukup meyakinkan mereka, meski jauh di dalam hati, aku tahu bahwa diriku sedang hancur berkeping-keping.

Setiap kali aku mencoba fokus, pikiranku selalu melayang pada kenangan tentang suamiku—suara dukungannya, sentuhannya yang menenangkan, dan caranya meyakinkanku bahwa aku bisa menghadapi semua tantangan. Kini, tanpa dia, dunia kerja yang dulu menjadi tempatku merasa hidup kini terasa hampa dan tanpa arah.

Aku sering menatap komputerku dalam diam, menunggu motivasi yang tak kunjung datang. Terkadang, aku membuka file lama, berharap menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan gairahku lagi, tapi yang kutemukan hanyalah keputusasaan yang semakin dalam. Rasanya seolah-olah aku terjebak dalam lingkaran yang tak berujung, sebuah tempat di mana produktivitas berubah menjadi tekanan, dan tekanan berubah menjadi luka yang semakin menganga.

Bagiku, pekerjaan bukan lagi jalan untuk maju, melainkan bayangan lain dari kehampaan hidupku. Setiap tugas yang tertunda menjadi pengingat pahit bahwa aku tak lagi memiliki semangat yang dulu menyala-nyala di dalam diriku. Aku hanya menjalani hari demi hari, berharap suatu saat, meski entah kapan, aku bisa menemukan kembali diriku yang hilang bersama kepergiannya.

Beban ekonomi mulai menekan dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Tagihan-tagihan rumah tangga yang selama ini semua diurus oleh suamiku datang tanpa henti, seperti tamu yang tak diundang, menumpuk di meja tanpa memberikan waktu untuk bernapas. Listrik, air, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan sehari-hari terus berjalan, sementara penghasilanku mulai terasa tidak mencukupi untuk menutupi semuanya.

Aku tahu aku harus bangkit, harus melangkah maju untuk menjaga kehidupan kami, tetapi setiap langkah terasa seperti membawa beban berton-ton di punggungku. Kepergiannya tak hanya meninggalkan kekosongan di hati, tetapi juga tanggung jawab besar yang kini harus kupikul seorang diri.

Anak kami yang masih SMP sering mendekatiku dengan tatapan polos, bertanya dengan suara lirih, "Bunda, kapan masak makanan kesukaanku lagi?" Pertanyaan itu terasa seperti tusukan kecil yang terus mengingatkanku bahwa aku belum mampu memberikan kebahagiaan sederhana yang dulu selalu ada. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman lemah dan janji-janji yang sulit kutepati, "Nanti ya, Nak, kalau Bunda sempat."

Tapi aku tahu, di balik tatapan mereka, ada harapan yang perlahan memudar. Mereka merindukan kehangatan yang dulu selalu kami miliki, makan malam bersama dengan tawa dan canda, serta hidangan yang kumasak dengan cinta. Kini, bahkan untuk memasak pun terasa seperti tugas berat yang tak sanggup kulakukan.

Aku sering duduk di sudut ruangan, menghitung setiap rupiah yang tersisa, mencoba mencari cara untuk mencukupi semuanya. Kadang aku merasa putus asa, berpikir bahwa aku mungkin tidak cukup kuat untuk melewati ini. Namun, setiap kali aku melihat wajah anakku, aku tahu aku harus terus berusaha, meskipun langkahku terseok-seok.

Malam-malamku sering diisi dengan kekhawatiran tentang bagaimana kami akan bertahan di hari-hari yang akan datang. Aku mencoba mencari solusi—memotong pengeluaran di sana-sini, menunda pembelian yang tidak terlalu mendesak, bahkan mempertimbangkan pekerjaan tambahan. Tapi semua itu belum cukup untuk mengusir rasa takut yang terus menghantuiku.

Di tengah semua ini, aku menyadari bahwa bukan hanya keuangan yang menjadi masalah, tetapi juga beban emosional yang terus menggerogoti diriku. Aku merindukan dukungan suamiku, seseorang yang dulu selalu ada untuk membantuku berpikir jernih di saat-saat sulit seperti ini. Kini, aku hanya memiliki diriku sendiri untuk diandalkan, meskipun kadang rasanya aku nyaris tak sanggup lagi berdiri.

Setiap malam, aku duduk di meja kerjaku, ditemani oleh lampu meja yang redup, mencoba menyelesaikan tugas-tugas yang terus tertunda. Aku membuka laptop atau meraih pena, tetapi selalu berakhir dengan menatap kosong pada layar atau kertas di depanku. Jemariku berhenti, seolah kehilangan arah, dan pikiranku justru melayang ke tempat yang jauh—masa lalu di mana dia masih ada.

Bayangan senyum hangatnya sering kali hadir begitu nyata di pikiranku, seperti ia sedang duduk di seberangku, menatapku dengan mata penuh kasih. Aku masih bisa mendengar suaranya yang lembut, mengatakan, “Kamu bisa, Sayang. Aku percaya padamu,” dengan nada penuh keyakinan yang dulu mampu mengusir keraguanku. Tetapi kini, suara itu hanya tinggal gema samar yang terpantul di dinding kesunyian.

Aku mencoba mengalihkan pikiranku kembali pada tugas yang menumpuk, tapi ingatan akan dirinya selalu muncul, menguasai pikiranku. Aku teringat bagaimana dia selalu mendukungku, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan kehadirannya yang penuh cinta. Ketika aku merasa lelah, dia selalu ada untuk memijit pundakku atau sekadar menyeduhkan secangkir teh hangat. Kini, kehangatan itu telah pergi, meninggalkan kehampaan yang sulit dijelaskan.

Terkadang, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan, membasahi kertas kosong di depanku. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana aku bisa melanjutkan semua ini tanpa dukungannya? Bagaimana aku bisa menjadi cukup kuat untuk menghadapi semua beban ini sendirian?

Malam-malam terasa begitu panjang. Waktu seakan berhenti ketika aku terjebak dalam pikiran dan rasa rinduku padanya. Bunyi jam dinding menjadi satu-satunya suara yang terdengar, mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, meskipun rasanya aku tetap terjebak di tempat yang sama.

Aku mencoba menghibur diriku dengan berkata bahwa dia pasti ingin aku melanjutkan hidupku dengan kuat. Namun, meyakinkan diriku sendiri terasa seperti pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada menyelesaikan tumpukan tugas di mejaku. Dan ketika malam semakin larut, aku hanya bisa duduk di sana, membiarkan air mataku jatuh, sambil berbisik dalam hati, “Aku rindu kamu.”

Aku merasa kehilangan arah, seperti kapal yang terombang-ambing di lautan tanpa nakhoda. Hidupku yang dulu terasa begitu jelas jalannya kini berubah menjadi perjalanan yang penuh kebingungan. Tak ada lagi tempat untuk mengadu, tak ada lagi suara lembut yang menenangkan ketika aku merasa lelah, dan tak ada lagi pundak untuk bersandar saat beban dunia terasa terlalu berat.

Di saat-saat sepi, aku sering menangis dalam diam, membiarkan air mata mengalir tanpa henti, membawa bersamanya perasaan rindu yang tak pernah terucap. Malam-malamku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergema di benakku. Aku menengadahkan tangan kepada Tuhan, bertanya dengan penuh rasa putus asa, "Kenapa dia pergi begitu cepat, padahal aku masih sangat membutuhkannya?"

Aku mencari jawaban, tetapi yang kutemukan hanyalah keheningan. Rasanya seperti Tuhan pun ingin aku menghadapi ini sendirian, meskipun aku merasa terlalu lemah untuk melakukannya. Aku sering berpikir, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpanya? Bagaimana aku bisa menghadapi semua ini, merawat anak-anak kami, dan memenuhi kebutuhan yang terus menekan, tanpa dukungan dan cintanya?

Setiap sudut rumah mengingatkanku padanya. Meja makan tempat kami dulu bercanda, ruang tamu tempat kami berbagi cerita, hingga kasur tempat dia biasa memelukku sebelum tidur. Semua itu kini hanya menjadi bayang-bayang yang menghantui, membuat rasa kehilanganku semakin dalam.

Aku merasa seperti kehilangan separuh diriku, seperti hidup ini telah mengambil sesuatu yang paling berharga dariku tanpa memberiku pilihan. Ketika aku mencoba bangkit, bayangannya selalu muncul, mengingatkanku akan kebahagiaan yang dulu kami miliki dan betapa beratnya melanjutkan hidup tanpanya.

Namun, di balik semua pertanyaan dan tangisan itu, ada dorongan kecil dalam hati yang memintaku untuk tetap bertahan, meskipun aku belum tahu bagaimana caranya. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa mungkin, suatu saat, aku akan menemukan cara untuk berjalan kembali, meski tanpa dirinya di sisiku.

Meski begitu, aku tahu aku tidak bisa terus seperti ini. Anak kami masih membutuhkan aku, dan suamiku pasti tidak ingin melihatku terpuruk. Tapi untuk bangkit, rasanya seperti mendaki gunung yang terlalu tinggi, dengan tubuh yang terlalu lelah.

Kepergiannya mengajarkanku bahwa hidup tak pernah bisa sepenuhnya dipersiapkan. Aku kehilangan pijakan, kehilangan separuh jiwaku, dan kehilangan semangat yang dulu selalu dia berikan. Dan di tengah gelapnya malam, aku hanya bisa berdoa agar Tuhan memberiku kekuatan untuk kembali menemukan cahaya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post