Emelda

Try my best for the best I might not be the best But surely.... I can do thing well...

Selengkapnya
Navigasi Web

Kenangan Bait Terindah. Part 'Terlalu Rindu'

Pagi itu, saat matahari baru mulai menyinari rumah dengan sinarnya yang lembut, aku memutuskan untuk merapikan pakaian kotor yang tergeletak di belakang pintu kamar. Langkahku terasa berat, setiap sudut rumah ini selalu mengingatkanku pada sosokmu yang kini telah tiada. Sambil mengumpulkan pakaian, tiba-tiba saja aku terhenti. Ada aroma yang begitu familiar, aroma khas tubuhmu yang selalu membuatku merasa tenang. Aku terpaku sejenak, memejamkan mata dan membiarkan aroma itu meresap, seolah-olah kamu berada di sini, di sampingku.

Dengan hati yang berdebar, aku mulai mencari sumber aroma itu. Air mata perlahan mengalir di pipiku, perasaan rindu yang selama ini kupendam meledak begitu saja. Aku meraih satu per satu pakaian, berharap menemukan jejak yang bisa membawaku kembali padamu, meski hanya untuk sekejap. Setiap helaian kain yang kusentuh membawa kenangan manis tentang kita. Aku teringat tawa kita, percakapan hangat di malam hari, dan pelukan erat yang selalu memberi rasa aman. Semakin dalam aku menghirup aroma itu, semakin kuat perasaan rindu ini menguasai hatiku.

"Sayang, aku rindu," bisikku pelan, meskipun aku tahu kamu takkan mendengarnya. Air mata semakin deras mengalir, menyadarkan betapa dalamnya luka kehilangan ini. Ternyata, aku belum siap melepaskanmu, belum siap menerima kenyataan bahwa kamu telah pergi untuk selamanya.

Aku duduk di lantai, memeluk pakaian yang masih menyimpan aroma tubuhmu. Dalam kesunyian pagi, aku merasakan kehadiranmu yang begitu dekat, seolah-olah kamu sedang menenangkanku, membisikkan kata-kata cinta yang selalu membuatku kuat. Namun, pada saat yang sama, rasa kehilanganku semakin dalam.

"Ya Allah, berikan aku kekuatan," doaku dalam hati. Aku tahu bahwa kehidupan harus terus berjalan, meskipun tanpa hadirmu di sisiku. Tapi pagi ini, aroma tubuhmu mengingatkanku betapa besar cinta kita, dan betapa sulitnya melepaskan seseorang yang begitu berarti.

Dengan perlahan, aku bangkit dan melanjutkan pekerjaanku. Setiap helai pakaian yang kurapikan kini terasa lebih berat, karena membawa beban kenangan dan rindu yang mendalam. Namun, aku tahu, bahwa meskipun kamu telah tiada, cinta dan kenangan kita akan selalu hidup dalam hatiku.

Hari ini, aroma tubuhmu memberikan penghiburan di tengah duka. Aku sadar, bahwa meski kamu tidak lagi di dunia ini, cintamu akan selalu ada di sekelilingku, menguatkan langkahku menjalani hari-hari ke depan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Luar biasa Bu emelda tulisan nya, cerita yang menarik, berulang kali di baca.ok mantap Bu

26 Jul
Balas

Alhamdulillah, terima kasih pak lukman Ismail atas apresiasinya. baru belajar menuangkan perasaan dalam bentu tulisan pak

26 Jul

Alhamdulillah, terima kasih pak lukman Ismail atas apresiasinya. baru belajar menuangkan perasaan dalam bentu tulisan pak

26 Jul



search

New Post