SETELAH DUA SETENGAH BULAN DI ICU (BAGIAN 5), BERJUANG SEMBUH DAN MELANJUTKAN SEKOLAH
TANTANGAN MENULIS HARI KE – 20
DUA SETENGAN BULAN DI ICU (bagian 5),
Penulis : Elida Sustia (Guru SMAN 39 Jakarta)
Selama duduk di bangku bangku sekolah MIN (SD Islam), Abil diperlakukan sangat baik oleh guru maupun teman-temannya karena mengetahui keadaan Abil sebelum sakit, saat sakit dan saat pemulihan sehingga bisa bersekolah kembali. Hampir semua guru dan teman-teman Abil sudah membezuk Abil bahkan ada yang lebih dari satu kali.
Selama pemulihan mama Abil mengajukan cuti besar selama 3 bulan dan Alhamdulillah disetujui atasannya, sehingga bisa merawat, mengantar dan menunggu Abil di sekolah.
Sosok Abil bukan Abil yang dulu yang hiper aktif, susah dilarang, kalau minta sesuatu harus dituruti, jika tidak dia akan menjerit-jerit seperti disiksa sehingga tetangga sering bertanya kenapa Abil sering nagis kencang.
Sekarang Abil jadi anak baik tidak banyak permintaan, nurut kalau dilangin, cuma orang yang melihat jadi iba, sering ditawarin Abil mau apa, dia bilang tidak mau apa-apa. Kalau ditanya cita-citanya apa?, jadi Ustad jawab Abil.
Sungguh perjuangan dan kesabaran yang luar biasa karena sebelumnya makan Abel hanya susu yang dimasukan lewat selang NGT (selang nasogastrik) melalui hidung, melewati tenggorokan dan terus sampai ke dalam lambung.
Dengan penuh kesabaran bu Yenti merawat Abil, slang NGT seminggu sekali harus diganti, bisa dibayangkan bagaiman rasanya slang lewat hidung yang sampai ke lambung dicabut dan diganti yang baru. Setelah satu bulan slang NGT dilepas, kemudian Abil belajar minum pakai sedotan.
Begitu kuat tekad Abil untuk sembuh, sehingga lama kelamaan sudah bisa makan meski mulai dari bubur bayi seperti anak terlahir kembali belajar minum, makan semua tergantung pada mamanya atau yang merawatnya.
Seminggu sekali Abil control ke dokter syaraf dan dua kali seminggu ke dokter URM (Unit Rehabilitasi Medik) selama tiga bulan, selanjutnya control hanya sebulan sekali.
Selama tabung trakeostomi terpasang, Abil agak kesulitan berbicara dan menelan. Trakeostomi juga berisiko menimbulkan komplikasi. Berikut ini adalah resiko yang mungkin dialami pasien:Infeksi, kerusakan kelenjar tiroid, terbentuknya jaringan parut di trakea, kebocoran paru-paru, perdarahan dan kegagalan fungsi paru. Pasien juga berisiko mengalami kerusakan pada pita suara yang menyebabkan perubahan suara permanen.
Setelah satu bulan pulang kerumah tabung Trakestomi dicabut oleh dokter THT yang menangani Abil dan setelah lebih kurang satu bulan lubang di leher Abil tertutup sendiri tanpa dilakukan penjahitan karena, penjahitan bisa berisiko munculnya komplikasi lain. Selama belum tertutup secara alami, lubang tersebut ditutup kassa untuk memastikan tidak ada kotoran yang masuk.
Akhirnya Abil bisa menyelesaikan sekolahnya di MIN, dan Abil ingin melanjutkan pendidikan ke SLTP, dia pilih MTSN sesuai juga dengan keinginan kedua orang tuanya supaya pelajaran agama Islamnya lebih banyak dan tidak terlalu jauh dari rumah.
Disini Abil dapat ujian berat lagi. Walau Abil saat itu belum paham ayat Al Quran ini tapi dia sudah menjalani.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”(QS. Al Baqarah:286)
Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dan ini merupakan janji Allah, jadi sesungguhnya tidak mungkin Allah membebani kita dengan ujian yang tidak kita sanggup.
Kemudian Allah akan memberikan pahala kebaikan jika seseorang yang sedang diuji tersebut bersabar dan melakukan kebaikan dan mencari jalan keluar dengan cara yang diridhai Allah, dan sebaliknya Allah akan memberikan dosa jika ia tidak bersabar dan mencari jalan keluar dengan cara yang tidak diridhai Allah.
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285). Allah sudah pilih orang yang diuji. Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.
Ikuti ujian Abil selanjutnya….(besambung)
Jakarta, 30 April 2020
#tantanganmenulisgurusiana
#duasetengahbulan di ICU
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
perjuangan panjang ya bu..
betul bu Cucu sekarang juga masih berjuang