DUA SETENGAH BULAN DI ICU (bagian 8), SEKARANG JADI IMAM TARAWEH
TANTANGAN MENULIS HARI KE – 23
DUA SETENGAH BULAN DI ICU (bagian 8), SEKARANG JADI IMAM TARAWEH
Penulis : Elida Sustia (Guru SMAN 39 Jakarta)
@23:55
Dalam keadaan fisical distancing, atas permintaan anak diadakan buka bersama. Saya ikuti saja karena kami tinggal tidak satu rumah jadi bertemu tidak setiap hari paling satu minggu atau dua minggu sekali. Tentu momen ini sangat dinanti-nantikan. Untuk porsi 15 orang, masak sendiri juga cape, menghindari itu maka dua hari sebelumnya saya menghubungi teman untuk minta bantuannya memasak beberapa jenis lauk dan sayur.
Saya sudah tenang karena ada yang bantu masak. Untuk kue-kue dibantu adek karena lagi senang belajar bikin kue, lontong dan gorengan ada mbaknya yang masak, salad buah ini langganan ponakan yang suka buat salad. Berarti semua sudah beres gak perlu mikir lagi.
Ternyata pada hari H sabtu 2 Mei 2020, teman yang saya harapkan membantu tidak bisa dihubungi dari pagi sudah berkali-kali saya telepon namun tidak diangkat. Saya berfikir mungkin dia sakit atau hp nya hilang. Setelah azan zuhur saya coba hubungi lagi, kali ini telepon saya diangkat, halo… ada apa bu sahutnya. Mbak kan sudah janji masak hari ini dirumah untuk acara buka bersama, jawab saya. ‘Bukannya besok bu’ sahutnya, bukan mbak, hari ini sahut saya. Ya sudah saya ke pasar dulu ya bu mau beli ayam dan lain-lain. Gak usah mbak saya beli yang matang saja. Karena saya dengar info sudah beberapa hari ini pasar hanya buka setengah hari untuk mengatasi penularan covid.
Semula saya agak bingung mau masak apa, akhirnya saya teringat teman saya punya hoby masak dan banyak juga yang pesan masakannya seperti rendang, dendeng, sambalado tanak dan nasi box untuk acara selamatan dll. Saya langsung angkat telepon, berkali-kali juga tidak dijawab, akhirnya dia telepon balik karena sudah melihat panggilan tak terjawab dari saya. Saya langsug sampaikan kronoligis kejadian hari ini sampai saya harus minta tolong, lalu dia menyanggupi.
Alhamdulillah terjawab sudah kepanikan saya, saya jadi ingat surat Asy-Syarh, yang selalu saya baca disetiap sholat wajib saya, “sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” dan bahkan diulangi lagi di ayat berikutnya “dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. 94:5-6).
Setelah berbuka puasa, sholat magrib berjemaah diimami Abil. Lebih kurang 10 orang, suami, anak, mantu, adek dan keponakan. Setelah makan malam dan azan Isya berkumandang kamipun sholat Isya dan lanjut taraweh 8 rakaat dan witir 3 rakaat yang diimami Abil. Ini adalah kali pertama sholat taraweh saya diimami Abil. MasyaAllah bacaanya mengalahkan orang seiisi rumah yang sudah berpuluh-puluh tahun sholat, karena kami biasanya ayat sholat selalu diambil dari juz 30 dan ayatnya pendek-pendek karena keterbatasan jumlah hapalan kami. Berbeda dengan Abil yang selalu memilih ayat-ayat pajang, seperti dari surat Al Baqaroh atau Ali Imran dan surat lainnya yang kami tidak hapal.
Bacaannya bagus, tajwidnya halus artinya tidak ada kesalahan dalam membaca maklum anak pesantren . Sekarang Abil sudah tumbuh jadi remaja ganteng, santun dan religius.
Ternyata belum sampai ke cita-cita Abil, ceritanya sudah panjang besok dilanjutkan lagi (bersambung…)
Jakarta, 3 Mei 2020
#tatangan menulis gurusiana
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Ditunggu kelanjutannya
wow, cerita sederhana yg mengharu biru dlm situasi physical distancing ini...lanjut bu..salam