Elfiyon Julinit

Berbagi Setetes Perjalanan Humanis dan Filantropi. ...

Selengkapnya
Navigasi Web
ZAMANNYA COLOKAN

ZAMANNYA COLOKAN

Diantara alasan mengapa sebagian penumpang Kereta Api Sibinuang dari Padang ke Pariaman "berebut" ingin duduk sisi jendela ?. Sebagian orang mungkin akan mengatakan, karena mereka ingin melihat pemandangan alam sepanjang perjalanan.

Jawaban ini tidak saya dapati selama perjalanan, karena kebanyakan penumpangnya justru sibuk dengan handphonenya masing masing sampai ditujuan. Tidak begitu peduli dengan sawah yang terlihat hijau atau berbincang akrab dengan penumpang yang duduk disebelahnya. Sisi jendela kereta ini jadi idola karena ada colokan listriknya. Dapat mencash telepon genggam selama perjalanan.

Demikian juga alasan sebagian orang lebih menghendaki duduk di kursi dekat jendela pesawat daripada bagian sisi lainnya. Ingin melihat pemandangan awan ?. Bukan juga. Tapi karena dibagian tengah itu sangat menjengkelkan. Tidak nyaman menyandarkan tangan di sandarannya dan terjepit dua pundak orang kiri dan kanan. Apalagi diapit dua jagoan obesitas.

Dulu waktu Bus antar kota belum berkenalan dengan AC, para penumpang juga berebut duduk di bagian jendela. Alasanya jelas bukan karena pemandangan. Tapi karena mudah mabuk perjalanan, pusing pusing dan tidak terlangkahi penumpang lain kalau ingin be toilet bus. Mereka mengira kalau sudah dipinggir, serasa mau muntah akan gampang mengeluarkan kepala dan memuntahkan isi perut habis makan sate tadi pagi.

Sekarang apa pula alasan pengendara lebih memilih berhenti di masjid ini dan bukan itu?. Masjid ini selain ber AC, di tempat duduknya tersedia pula beberapa colokan listrik untuk Hape. Dan sekarang banyak masjid masjid di jalur musafir mengambil inisiatif ini. Pengurusnya tahu betul bagaimana jadi musafir, batre low dan masjid tutup. Perjalanan masih jauh.

Saya menemukan sejumlah masjid yang melakukan sentuhan "kecil" ini. Kecil tapi bermakna besar. Seperti Masjid Syekh Burhanuddin di jalur Tiram - Ulakan ini. Colokannya di luar, sehingga siapapun yang berhenti bisa ngecas disana. Hal serupa saya dapati juga di Masjid Silaing Bawah Padang Panjang. Tidak hanya colokan, lengkap dengan kopi hangat dan tehnya.

Soal colok mencolok ini, di masa kini sudah jadi hal jamak. Bahkan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi pembeli. Colokan itu ada ditempat jualan bakso, Nasi Padang, resto, bahkan di Lubuk Alung saya dapati salah satu penjual sate memasang colokan di setiap deret mejanya.

Tentu untuk masjid tak musti pula memasang colokan disetiap shaff jamaahnya. Nanti kesentrum semua. Punya pengalaman menemukan colokan di tempat umum ?

ELFIYON JULINIT

Beranda | Humanis

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post