REVOLUSI SWALAYAN, SPBU DAN MASJID
Di Bukittinggi saya melihat ada dua swalayan besar yang selalu ramai oleh pembeli. Nyaris ruang parkirannya tak pernah kosong oleh konsumen. Silih berganti kendaraan keluar dan masuk lagi.
Disekitarnya cukup banyak swalayan lain turut berdiri dan menjual jenis barang barang yang hampir sama, tapi pemandangan di ruang parkiran tampak lapang saja, tampak biasa biasa saja. Relatif lengang dari pembeli.
Rasa penasaran dan bertanya tanya dalam hati memancing saya untuk melihat dari dekat apakah sih sebenarnya daya tariknya kedua swalayan itu dan apa bedanya dengan swalayan lain.
Benar sekali anggapan anda. Bukan pada aneka jenis ragam barang yang dijual. Tapi pada pelayanan dan suasana berbelanja. Disatu swalayan, para pegawainya tampil berseragam rapi dan bersih. Semua wanita berjilbab. Sejak berbelanja hingga ke kasir diberi layanan yang ramah. Alunan musik islami dan berganti alunan Al Quran tiada henti hentinya terdengar. Saat shalat masuk azan pun terdengar dengan jelasnya. Areal parkirannya juga bagus. Ada petugas pemandu parkir dan satu lagi, tidak
Pada swalayan kedua, ternyata juga tidak mau kalah. Hampir semuanya sama. Bedanya "sedikit" saja. Tapi yang sedikit itu sepertinya sudah cukup berpengaruh besar pada tingkat keramaian pelanggannya. Apakah itu ?. Adalah layanan antar barang belanja ke bagasi kendaraan konsumennya.
Menurut saya, manager swalayan satu ini sangat cerdas dalam berkompetisi. Dengan layanan antar ke bagasi itu ia telah memudahkan para ibu yang belanja banyak barang, tidak rempong apalagi jika saat bersamaan membawa serta anak kecil yang harus dibimbing. Apalagi jika itu ibu hamil muda, baru operasi atau tangan suka kesemutan. Layanan antar belanjaan ini benar benar keren. Kecil tapi memberi pengaruh besar.
Saya jadi ingat kembali bagaimana revolusi yang terjadi di SPBU. Pada tahun 1980 an SPBU boleh dibilang hanya menyediakan bensin saja. Pengendara datang mengisi bensin dan lalu pergi. Dalam Dua dekade kemudian, semua hampir hal tersedia di SPBU. Mulai dari toilèt umum, mushalla, mesin ATM, keran air radiator, isi angin gratis, minimarket, resto cepat saji, pizza, rumah makan, penginapan dan lainnya. Emezing
Mungkin kita bertanya tanya apa sih hubungan antara toilet umum dengan penjualan BBM di SPBU?. Jelas tidak ada kaitannya. Satu untuk mengisi tengki, satu lagi mengosongkan "BBM" nya. Tapi bisa jadi orang berhenti mengisi BBM disana karena ada toiletnya. Tempatnya nyaman dan bersih pula.
Saya membayangkan seandainya revolusi Swalayan dan SPBU itu juga terjadi di masjid. Masjid selain untuk tempat ibadah shalat, memiliki parkiran yang luas, punya ruang layanan konseling, pengajian yang ada bagi semua kalangan usia, memiliki program yatim yang terbina, punya usaha produktif, penginapan bagi musafir plus toilet dan kamar yang buka 24 jam.
Mungkin ini perlu jadi renungan kita semua, terutama mereka yang diberi amanah sebagai pengurus. Meningkatkan pelayanan agar jamaah kian bertambah dan betah didalamnya. Jika jamaah bertambah maka akan semakin banyak pula orang berinfak dan sedekah. Tidak perlu lagi pengurus harus "bersorak" disetiap pekan sebelum Khatib naik mimbar mencari dana untuk menutup tagihan listrik, air dan gaji para garinnya ke jamaah.
Wallahu alam bishawwab.
Elfiyon Julinit
November 2024, Salam Filantropi
foto : Toilet SPBU di Air Putih, Sumatera Barat. Tempat persinggahan nyaman bagi musafir Sumbar - Riau
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar