TITIK NADIR
Pernahkan terbersit dalam benak dan pikiran kita kata itu? Mungkin saja.
Dalam perjalanan hidupnya, tentu setiap manusia akan pernah mengalami saat-saat dimana segenap daya dan upaya terasa tidak ada 'mut' lagi. Semua terasa hambar dan malas untuk melakukannya. Bukan karena faktor kecapekan, akan tetapi lebih pada aspek psikis yang berujung penatnya olahpikir, olahrasa, dan olahraga. Seperti yang pernah aku alami sendiri.
Aku dulunya adalah seorang musisi, tepatnya seorang gitaris.
Belajar sejak di bangku SMP (1989). Kebetulan guru baruku yang mengajar mata pelajaran olahraga, piawai memainkan alat gitar akustik. Sering saat istirahat pertama pak Sugeng begitu panggilan beliau, mengiringi salah seorang teman yang memiliki vokal lumayan bagus menghibur warga sekolah lewat pengeras suara yang biasa dipakai untuk kegiatan upacara bendera. Kepiawaian pak Sugeng membuatku ingin belajar memainkan gitar. Itulah awal aku menyukai alat musik gitar.
Kegemaranku bermain musik berlanjut di tingkat SMA. Dan pas sekali di bangku SMA, aku bertemu dengan teman-teman yang mendukung hobiku itu. Kami tergabung dalam kelompok ekstrakurikuler folksong. Beberapa kali kelompok folksong SMA Negeri Ambulu mengisi acara Bahana Suara Pelajar RRI Jember. Tiga gitaris berbagi tugas memberi isian harmonisasi pada lagu yang dibawakan oleh teman vokalis. Ada puisi juga yang harus aku iringi dengan petikan gitar. Puncak eksistensiku dalam bermain musik, saat gelaran acara Pentas Seni yang diselenggarakan oleh siswa-siswi di beberapa seni di tahun 1991 dan 1992. Dengan seperangkat alat sholat, eh...band ding, grup band SMANA beraksi di pentas membawakan lagu-lagu dengan genre rock, pop, etnik, dan tak lupa dangdut. Ada yang jingkrak-jingkrak dan adapula yang joget. Betul-betul 1992 Pentas Seni penuh kenangan.
Selepas SMA bukannya luntur, tapi justru malah menjadi-jadi hobiku itu tersalurkan. Pasca pentas seni 1992, ada sebuah intertaint seni tingkat kecamatan yang mengajakku bergabung. Dari situ aku sering bermain dipentas musik umum, dari tempat satu ke tempat yang lain. Hingga puncaknya aku diminta oleh seorang bos kendang kempul kenamaan di kabupaten Jember untuk bergabung. Hampir tiap malam aku mentas di berbagai tempat dan acara. Sampai pernah mentas jauh di kabupaten Blitar. Pernah juga di daerah Tempursari Lumajang yang jalannya berkelok-kelok dan berliku-liku, membuat kepala puyeng. Tapi semua itu terbayar dengan honor yang lumayan buat seorang bujangan saat itu. Cukuplah buat ngebosi teman gank kampung untuk ngopi bareng di gadis bunga desa. Hehehe...
Hingga pada saatnya, singkat cerita setelah jeda untuk melanjutkan kuliah di pendidikan, aku merasakan suatu hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah perasaan dimana males untuk mentas lagi. Aku sempat jagongan dengan salah satu musisi senior di Wuluhan. Ternyata diapun pernah merasakannya, perasaan itulah yang aku namakan 'titik nadir'.
Mungkin juga Anda merasakannya di bidang lain?
Salam literasi.



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Tulisan yang asyik dinikmati. Cara pengungkapan mengalir lancar dengan diksi yang pas. Salam sukses dan salam literasi untuk Pak Eko.
Terima kasih pak Sochib, Sehat dan sukses selalu buat Njenengan sekeluarga. Aamiin....
Keren ulasannya
Makasih, Bu Tarti. Sugeng dalu.
Guru Matematika yang nyeni. Hafalan rumus menggunakan lagu, pasti keren pak. Sukses selalu ya pak
Bagus Pak, .... dapat menyalurkan hoby
Nggih, Bapak. Dengan seni hidup terasa indah dan bermakna.
Keren banget ulasannya. Mari SKSS sahabat gurusianer
Makasih pak Sultan. Siap untuk ber-SKSS, insyaallah...
Biografi yang bagus, ku tunggu lanjutannya...
InsyaAllah, Ustadz Soim.
Salam sehat mas Eko super sekali tulisannya " Titik nadir"
Titik Nadir barangkali sinonim dengan anti klimaks, njih. Terima kasih.
Salam sehat mas Eko super sekali tulisannya " Titik nadir"
Salam sehat mas Eko super sekali tulisannya " Titik nadir"
Salam sehat mas Eko super sekali tulisannya " Titik nadir"