PULAU KATANG, DIMANAKAH HANTUMU KINI?
Katang, sebuah pulau yang berada di wilayah Kabupaten Lingga, tepatnya di desa Benan. Desa yang di sebut sebagai teras Lingga. Wajar dinamai demikian, karena Desa Benan adalah wilayah pertama yang ditemui saat masuk ke Kabupaten Lingga dari ibukota Provinsi Tanjungpinang, ataupun kota terbesar di Kepulauan Riau, yakni kota Batam.
Desa Benan menggunakan nama salah satu pulau yang ada diwilayah tersebut, sekaligus pulau yang berpenduduk paling banyak. Sementara itu ada beberap pulau yang belum berpenduduk walaupun cukup besar, bahkan lebih besar dari pulau Benan. Sebut saja Pulau Merodong, Pulau Air Sunde, dan Pulau Katang.
Pulau Katang berada persis disebelah pulau Benan, sehingga setiap hari dilalui oleh kapal penumpang menuju dan dari Daik Lingga, ataupun perahu – perahu Nelayan yang hilir mudik. Mengapa tidak berpenghuni? Bukankah pulaunya lebih luas dari Pulau Beban? Bahkan Pasir pantainya lebih luas dari pulau Benan.
Beberapa minggu setelah saya bertugas di Pulau Benan, desas desus yang saya dengar Pulau Katang itu berhantu. Hampir tidak ada orang yang berisik saat melintas di pulau itu. Bahkan jika ada anak yang nakal sering ditakut – takuti untuk diantar ke pulau Katang. Sebagian orang mengatakan sering mendengar suara – suara aneh bila melintas di Pulau itu. Ada yang bilang melihat sekumpulan orang – orang dengan cahaya lampu yang temaram sedang berpesta dipulau itu. Entah siapa yang memulai, dan entah siapa yang pernah melihat, dan entah siapa yang pernah mendengar. Yang ada katanya, dan katanya….
Hampir 11 tahun saya di Pulau Benan, maka selama itu jugalah saya melihat pulau yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kampung kami (sekitar 15 menit naik perahu bermotor). Tak terhitung berapa ratus kali saya melintas dari pulau itu. Kadang naik kapal penumpang, kadang menumpang perahu nelayan ke kota Batam. Bila naik Perahu Nelayan, jaraknya sangat dekat. Kadang hanya 10 meter dari bibir pantai. Kebetulan hanya satu sisi pulau yang berpasir putih. Sisi satunya cukup dalam airnya. Dari sisi yang dalam inilah perahu nelayan sering melintas. Saya selalu mengarahkan mataku kesana. Cantik, dan alami. Kapan ya bisa menginjakkan kaki disana? Begitulah isi kepalaku.
Tidak takut dengan hantu yang katanya sering berpesta di Katang? Tentu saja saya mengkhayalnya di siang hari. Kalau melintas di malam hari, saya tidak berani berangan. Tak bisa dipungkiri, berita yang dimulai dengan “katanya” itu mempengaruhi otak ku juga. Sebagai pendatang tentu saja saya harus patuh pada adat dan kebiasaan masyarakat sekitar.
Waktu berputar. Pembangunan bergerak hingga ke pelosok Negeri. Pemekaran wilayah terjadi di berbagai daerah. Salah satunya kampung kami. Yang dulunya masuk ke Kecamatan Senayang, kini mekar menjadi Kecamatan Katang Bidare (Bidare adalah logat Melayu untuk menyebut kata Bidara. Bidara adalah sejenis tanaman yang dipercaya sebagai anti Hantu / Roh Jahat). Mengapa memakai nama Katang? Karena pulau Katang merupakan pulau awal (batas wilayah) dari Kecamatan yang baru ini. Akhirnya si Pulau berhantu pun semakin terkenal. Tentu saja dikenal bukan karena cerita hantunya. Tetapi karena nama kecamatan yang baru.
Dan kini, Katang si pulau kosong tak berpenghuni akhirnya dilirik investor. Setahun terakhir ini, Pulau inipun dibenahi. Orang – orang berdatangan. Pesonanya mulai di ekspos. Dan saya salah satu orang yang penasaran ingin kesana. Hingga akhirnya masa itu tiba. Bersama beberapa orang ibu – ibu dan anak - anak, kami menumpang perahu seorang nelayan yang baik hati. Bermain – main dipulau kosong itu. Berlarian, kejar – kejaran, duduk manis selonjoran mengawasi anak – anak mandi (takut mereka terseret ombak). Tidak ada aura angker sama sekali. Tidak ada hantu atau suara – suara aneh. Apakah hantunya sedang istirahat di siang hari? Atau sudah pergi? Atau memang cerita hantu itu hanya fiktif belaka? Entahlah….
Yang pasti, pulau Katang itu cantiknya alami, kawan. Salah satu kecantikan Nusantara yang tersembunyi. Datanglah bila sempat. Atau intip dulu pesonanya dirumah Mbah Google. Ketik saja: Pulau Katang Lingga
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar