Lestari Lingkunganku, Sejuk Nuansaku
Menanam bukan hobi apalagi pekerjaan yang saya sukai. Walaupun saya menyukai keindahan, namun untuk terjun langsung melakukan kegiatan yang berhubungan dengan tanah, sepertinya masih jauh dari angan-angan. Anggrek adalah bunga pertama yang berhasil menyentuh hati, aneka jenis dan bentuk bunga membuat saya sering mendatangi perkebunan anggrek di dekat rumah. Indah sekali saat bunga-bunga itu bermekaran. Daun berwarna hijau yang tingginya hampir sama berbaris dengan rapi sesuai jenis bunganya. Ungu, kuning, putih dengan bentuk khasnya membuat tambah berbinar mata yang memandangnya. Media tanamnya bukan tanah, membuat semakin tertarik mengenalnya. Perawatan dan perhatian yang cukup banyak menyurutkan niat untuk mencoba menanamnya.
Pada kesempatan lain, saya tertarik dengan keindahan bunga mawar. Walaupun ada duri pada batangnya, namun keindahan bunganya sangat menarik perhatian saya. Hingga akhirnya saya mulai mencari tahu mengenai cara menanam dan media tanamnya serta cara perawatannya. Sedikit lebih mudah dibandingkan bunga anggrek, hingga akhirnya bunga mawar adalah tanaman pertama yang saya rawat. Awalnya, saya membeli beberapa pot bunga mawar berbeda warna. Merawatnya hingga bermunculan tunas dan daun baru. Artinya mereka sudah menyesuaikan diri dengan halaman rumah saya. Senang sekali melihat mereka mulai memberikan kuncup bunga hingga bermekaran satu demi satu.
Saya mulai bereksperimen dengan menyilangkan warna bunga mawar. Mempelajari hal baru menjadi ketertarikan tersendiri. Saat mencoba seperti ada pertandingan yang harus dimenangkan. Melihat perkembangan hasil stek batang tak layu saja seperti berhasil lolos lomba tahap pertama. Begitu muncul pucuk bunga pada beberapa bulan berikutnya seperti memasuki babak semi final. Sungguh mengasyikkan. Finalnya adalah saat kuncup bunga mulai mekar. Biasanya batin ini mereka-reka warna apa yang akan muncul. Samakah dengan induknya atau akan memiliki bunga dengan warna berbeda. Senang dan bangga rasanya. Berhasil mendapatkan warna baru pada mereka.
Kini bukan hanya mawar, setelah menikah ternyata suami sangat gemar menanam. Sepertinya apa saja yang ditanamnya pasti akan tumbuh subur. Kini rumah kami memiliki banyak tanaman di halaman depan. Walaupun lahan yang ada hanya berukuran panjang 3 meter dan lebar kurang dari 1 meter namun tidak menyurutkan niat suami untuk menanam. Pertama-tama tanaman yang di tanam adalah jenis buah. Hal ini tak bertahan lama, karena posisi rumah kami berada pada jajaran tiang listrik jadi kami memutuskan untuk menggantinya. Terbayang jika nanti pohon yang sudah tinggi akan mengganggu kabel-kabel listrik.
Saat ini kami menanaminya dengan tanaman jenis lainnya. Beberapa tanaman tumbuh memayungi kami saat terik di siang hari. Salah satunya bunga nusa indah putih yang telah tumbuh tinggi dan rindang. Sirih, tanaman obat yang tumbuh menjalar di pagar rumah. Tanaman pandan, daun suci, dan lidah buaya tak lupa tertata di sana. Saat ini tanaman yang sedang naik daun juga ada, aglonema. Awalnya hanya memiliki satu pot saja, namun kini dengan tangan dinginnya, kami memiliki lebih dari lima pot.
Kreativitas dalam memanfaatkan barang bekas juga terlihat di halaman rumah kami, beberapa pot terbuat dari kaleng bekas, galon bekas, juga botol-botol bekas. Ternyata beberapa tanaman menarik minat orang yang melihatnya. Hingga akhirnya ayah menjual tanaman yang sudah dirawatnya. Hobi itu kini bisa menambah kesejahteraan kehidupan keluarga kami. Hal terpenting yang kami rasakan hingga kini adalah nuansa kesejukan yang tercipta dari rindangnya halaman rumah memberikan kesejahteraan yang paling dalam. Oksigen hasil fotosintesis dedaunan hijau membuat kebutuhan paru-paru keluarga kami terpenuhi dengan baik. Melakukan recycle pada sampah anorganik, membuat lingkungan menjadi lebih lestari. Hingga akhirnya, kelestarian lingkungan membuat sejuk nuansa rumah kami dan kesejahteraan batin dan fisik kami selalu terjaga.
Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2021. Semoga lingkungan sekitar kita tetap lestari dengan kesejukan nan hijau.
Dwi Yulianti, lahir 44 tahun silam di Jakarta. Tepatnya 18 Juli 1976. Saat ini mengajar kelas 5 di SD Nasional Plus Tunas Iblam. Keinginan terus menggeluti literasi menjadi tantangan tersendiri. Dapat dihubungi melalui email [email protected] atau WA 081310276388
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Kereeen ulasannya, Bunda. Salam literasi
Terima kasih Pak Dede. Salam
Keren banget Bunda
Keren idenya bu. Sukses selalu
Alhamdulillah Pak Sukadi. Sukses juga untuk bapak