Kuda Warna Para Raja
Senada rasa ungkapan hati, seakan mewakili khalayak yang sama berteriak, amarah mengguncang namun terbendung iman yang begitu kuat, pagi yang cerah itu telah tertutupi kabut hitam yang begitu membelenggu, rasa sakau semua tergesa gesa kulihat jalanan yang begitu ramai membuat mata enggan membidik setiap lalu lalang kencangnya para kuda berlari, hari itu seperti akhir dari sebuah kisah yang akan menutupi cerita.
Raut wajah para pengendara begitu meredam, seakan amarah terkumpul dalam hati, jika satu kata terungkap maka seribu kata akan menyerang, mereka adalah para kuda pengejar waktu yang telah di atur para raja, ambisius kuda itu berlari sekencang kencangnya seakan maut diatas kening, jalanan macet itu semakin menghambat ibarat lepasnya maut semakin menggelitik.
Sudut Utara lawan arah lebih menggelitik, kemacetan itu lebih dari sudut pandang yang kukira, rasa prihatin semakin resah timbul sebuah pertanyaan yang belum aku ketahui jawabannya. Bising para kuda mulai menggaung seperti seperti para mamalia yang kelaparan, tak ada kesabaran diantara mereka berlomba lomba mencari celah untuk berlari, yang kecil semakin menghambat yang besar semakin menutupi alurnya cerita, tak ada yang seirama pada saat itu hanya keresahan yang sama, para kuda semakin bergelut melawan panasnya polusi di tengah keramaian.
Terlihat pemandangan yang sangat indah para kuda itu saling berhadapan, tak ada yang saling mengerti diantara mereka hanya gading yang akan menentukan yang lemah semakin di caci yang bergerak akan mati. Tak ada pilihan bagi para kuda itu untuk saling memberikan harapan.
Para raja telah menanti di istana yang megah berdiri tegakan telunjuk gelengkan kepala, tidak ada yang menentang alasanpun di acuhkan. Dia senja menyiapkan amarah untuk para kuda dihukum dengan cabikan yang tidak mematikan raganya.
Para kuda semakin resah bising Auman semakin kencang jalanan yang tak mungkin terlewatkan membuat salah satu kuda mengeluarkan Auman yang kencang, aku lihat kuda itu berplat merah dengan kulit loreng yang membuat para kuda lain takut akan aumannya , para kuda yang berhadapan ya mulai menyingkir berseretan ke lorong kiri, namun Auman itu tidak membuat kuda abu berpolet kuning hendak bergeser ya semua tahu kuda itu adalah raja jalanan, kuda loreng itu mengaum dengan Auman begitu meluapkan amarahnya, rasa tak terima kuda raja jalanan itu membalas aumannya dengan rasa kesal penuh emosi, keduanya saling mengaum entah apa yang diaumkan yang membuat para kuda hitam terdiam dan tidak mau ikut campur.
Jalan itu mulai terlihat melaju merayap, semua hanya ada di negri para kuda, dalam kehidupannya hanya warna yang akan membedakan mereka, siapa yang berwarna dia yang bertahta.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Wah luar biasa mengejawantahkan kuda dalam diksi-diksi yang sangat luar biasa. Wow. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah
Terimakasih pak pujaan di atas pujian hanya Allah yang pantas mendapatkan , amin terimakasih doa dan masukannya ....
Mantabs, tulisan penuh gizi. Lanjutkan Mas Dinar, Barokallah
Terimakasih pak, suportnya ..., Siap ...mohon bimbingannya pak ....
Kuda, simbul kekuatan dan pembeda status keren pak Dinar. Permainan diksi yang luar biasa. Semoga sukses selalu. Barakallah.
Terimakasih ibu masukannya, .....Amien, mohon bimbingannya ....