
PEREMPUAN LAIN DI HATI SUAMIKU (Hari Ke-49)
Perempuan mana yang tak mengagumi Rangga, suamiku yang berpostur tinggi besar, atletis, berkulit sawo matang, dan memiliki dua lesung pipi yang menambah ketampanannya. Apalagi jika semua perempuan tahu jika profesi Rangga sebagai manajer di sebuah CV dengan proyek besar, pasti banyak yang nekat ingin mengenalnya. Namun, aku hafal dengan karakter Rangga dan segala tingkah polahnya, karena sudah sepuluh tahun kami berumah tangga dan Rangga tentu tipe lelaki setia, yang tidak mungkin bermain serong.
Sejak dua tahun yang lalu Rangga dipindahtugaskan ke Manado, mengajak serta aku, juga dua anak kembar kami, Lana dan Lani. Rangga harus terpisah dengan ayah dan ibunya yang berada di Semarang. Begitu pula denganku yang terpisah jarak dan waktu yang jauh, yaitu dengan ayah ibu kandungku di Blora. Semula Rangga hendak mengajak mertua. Akan tetapi, ayah dan ibu tidak berkenan karena lebih nyaman tinggal di tanah kelahiran mereka sendiri. Kami harus beradaptasi di lingkungan baru, orang baru, adat baru, dan makanan minuman yang baru. Beruntung suami mendapatkan jatah rumah di perumahan yang lumayan elit, sesuai dengan jabatan suamiku sebagai manajer.
Entah mengapa beberapa hari terakhir, suami sibuk sekali dengan gawainya. Biasanya, sesibuk apapun, setiap pulang kantor Rangga selalu menyempatkan untuk mengobrol denganku dan anak-anaknya. Aku penasaran mengapa Rangga berubah drastis, pernah ia tidak pulang selama tiga hari, berangkat kantor tergesa-gesa sampai melewatkan sarapan. Aku penasaran dan kesabaranku mau habis rasanya. Saat ia pergi belanja barang untuk keperluan proyek, diam-diam aku memeriksa gawainya. Rangga lupa tidak membawa gawai saking terburu-buru dapat telepon dari rekan kerja untuk segera berbelanja.
Aku cek di obrolan WA, ada satu percakapan pendek yang misterius dengan seseorang yang kelihatannya perempuan (karena di foto profil memakai foto siluet perempuan berjilbab). Entah siapa perempuan itu, yang isi obrolannya adalah meminta transfer sejumlah uang. Pantas saja, jatah bulananku berkurang. Ternyata Rangga mentransfer uang itu kepada perempuan lain. Betapa hancur hatiku, suami yang kucintai, ayah dari anak kembarku yang masih butuh curahan kasih sayang ternyata menyeleweng di belakangku.
Rangga mengucap salam dan aku kembalikan lagi gawainya di posisi semula. Aku menyeka air mataku agar tidak ketahuan Rangga jika baru saja menangis usai melihat obrolan di pesan WA. Spontan aku ingin mencerca Rangga dengan sederet pertanyaan supaya aku tidak menduga-duga lagi, apa yang sebenarnya ia lakukan.
“Yah, akhir-akhir ini kamu sibuk sekali ya dengan gawai kamu!”
“Kamu jarang mengobrol dengan aku dan anak-anak. Malah kemarin kamu nggak pulang, kamu nggak pamit. Sudah bosan dengan rumah tangga kita?” tanyaku kembali menitikkan air mata.
Rangga hanya terdiam membisu dan tertunduk. Mungkin ia menunggu aku selesai dengan pertanyaanku atau takut ketahuan.
“Kok diam, takut kedokmu terbongkar ya? Aku tidak sengajak melihat pesan di WAmu. Mau selingkuh kok dengan cara yang kurang cerdas. Tuh lihat di gawaimu masih tersimpan pesan dari perempuan lain! Malah minta transferan dari kamu, sedangkan jatah bulanan yang aku dapat akhir-akhir ini berkurang!” ucapku lebih berapi-api lagi.
“Sayang, sebenarnya aku tidak ingin membohongimu. Aku tidak mau kamu emosi jika berterus terang dengan realita yang terjadi,” sahut Rangga yang akhirnya mau bicara.
“Perempuan yang ada di pesan WA itu adalah ibuku. Memang belum aku beri nama di kontak karena ibu baru saja ganti gawai. Gawainya yang lama hilang saat kena jambret di pasar. Ibu menghubungiku karena ayah sedang sakit. Diabetes ayah kambuh lagi dan malah semakin parah. Ia membutuhkan sejumlah uang untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam dan aku meminta mereka untuk pergi ke dokter spesialis terbaik di Semarang. Kalau hanya mengandalkan uang pensiunan ayah tidaklah mungkin karena biaya obat-obatan dan konsultasi dokter lumayan mahal.”
Perasaan hati ini kembali teduh dan tenang namun juga menyesal karena telah menuduh Rangga berselingkuh.
“Maafkan aku Yah, telah menuduhmu yang bukan-bukan. Padahal selama ini rumah tangga kita selalu harmonis tidak ada gosip miring maupun hal yang mencurigakan.” ucapku sambil menyesal karena telah menuduh Rangga.
“Aku juga minta maaf, tidak segera berterus terang karena selain mengurus pekerjaan kantor, proyek, juga menyempatkan sejenak bertemu ibu. Kemarin yang kau bilang aku tidak pulang tiga hari gara-gara aku pulang sebentar ke Semarang untuk menjenguk dan melihat kondisi ayah.”
Ternyata perempuan lain yang aku khawatirkan adalah ibu mertuaku sendiri. Aku tersadar dari kesalahanku yang telah menuduh Rangga dan segera menelepon ibu. Dua minggu berikutnya, saat Rangga mengambil cuti, aku mengajaknya ke Semarang untuk menjenguk kedua mertua dan ke Blora untuk berkunjung ke rumah ayah dan ibuku.
-Diandra Haqi, 19 Juli 2020-
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Ternyata no hp ibu....hemmmm.
Keren Jeng Salam literasi
Keren Bu, salam kenal dari Langkat.