Jalanan Berdebu
Masa aku kecil, jalanan tak seramai saat ini
Masa aku kecil, permasalahan hidup tak serumit kini
Mengembara pikiran pada masa silam
Masa di mana belum tahu apa itu kebathilan
Jalanan penuh debu hingga pergelangan kaki
Terseok meniti sepeda, terkadang pun tak dikayuh
Takut terjatuh
Tapi mata yang beradu pandang di jalan,
selalu melayang seulas senyuman
Kepala mengangguk, tanpa lupa bertanya
"Hendak ke mana tuan?"
Lalu, melanjutkan perjalanan dengan saling mendoakan.
Kini, jalanan mulus karena aspal goreng
Tapi tak ada lagi senyuman dari pengguna jalan.
Pun ragu hendak bertanya ke mana?
Ketika bertemu di jalan.
Takut dianggap terlalu ikut campur urusan
Padahal bukan,
Ini adalah sopan santun dari warisan masyarakat pedesaan
Yang peduli pada sesama, juga tetangga kiri kanan.
***
Ponorogo, 11 September 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap puisinya, bun. Jadi teringat msa kecil. Salam sukses selalu!