Dewi Kinasih_DK

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI

Koneksi Antar Materi modul 2.1. Pembelajaran berdiferensiasi

“Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.”

(Arthur Aufderheide)

Selama kegiatan pembelajaran modul 2.1 yang berjalan selama ini, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru, berorientasi kepada kebutuhan murid. Kegiatan ini dapat dilakukan di kelas dengan :

1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang "mengundang" murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi tidak hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun murid juga.

3. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyelesaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, menggunakan sumber, cara, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

5. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

Setelah mempelajari modul 2.1 berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi, yang mengubah pemikiran saya adalah kita sebagai seorang guru harus memberikan pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar murid. Terdapat tiga aspek kebutuhan murid :

1. Kesiapan belajar (readiness) murid

Merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Tomlinson (2001)

Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa perspektif, diantaranya :

Bila ditinjau dari aspek kesiapan belajar (readiness)

a. Bersifat Mendasar ~ Bersifat Transformatif

Saat sebagian murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, atau jika ide itu bukan di salah satu bidang yang dikuasai oleh murid, mereka sering membutuhkan informasi pendukung yang lebih jelas, sederhana dan tidak bertele-tele untuk memahami ide tersebut. Mereka akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide secara langsung.

b. Konkret ~ Abstrak

Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkat perlu belajar serta konkret atau sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak.

c. Sederhana-Kompleks

Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu, yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi.

d. Terstruktur-Open Ended

Kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, dimana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain, murid siap menjelajah dan menggunakan kreatifitas mereka.

e. Tergantung (depedent)- Mandiri (Independent)

Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi dari pada yang lain.

f. Lambat- Cepat

Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari sebuah topik.

2. Minat murid

Bila ditinjau dari aspek minat murid

Mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran melalui tujuan menurut Tomlinson (2001) diantaranya :

a. Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginanmereka sendiri untuk belajar

b. Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran

c. Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau bagi mereka

d. Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

Beberapa cara untuk meningkatkan dan mempertahankan minat murid misal :

a. Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemontrasikan pemahaman dengan menulis lagu, melakukan pertunjukkan/menari/bentuk lain sesuai minat mereka

b. Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif

c. Menggunakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat

d. Membuat kegiatan "sehari di tempat kerja". Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka

e. Membuat model.

3. Profil belajar murid

Bila ditinjau dari aspek profil belajar murid

Profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. Menurut Tomlinson beberapa hal yang harus diperhatikan :

a. Lingkungan : suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.

b. Pengaruh budaya : santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal

c. Visual : belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator)

d. Auditori : belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik)

e. Kinestetik : belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on)

Setelah mempelajari modul 2.1 ini, pemahaman saya terhadap implementasi pembelajaran berdiferensiasi menjadi semakin bertambah. Pemikiran untuk dapat memberikan bentuk pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan murid sangat penting. Kita sadar bahwa kebutuhan anak-anak dan banyaknya pelajaran yang harus mereka terima disekolah tentu mendapatkan respon yang berbeda-beda, tidak itu saja. Dengan adanya banyak mata pelajaran tentu akan banyak juga harus dipenuhi , pertanyaanya apakah murid-murid perlu akan materi tersebut, Tentu ini akan memerlukan sebuah strategi supaya setiap materi yang disampaikan dapat efektif diberikan oleh gurunya.

Memang ketika menerapkan pembelajaran berdiferensiasi perlu waktu untuk dapat menerapkanya dengan efektif , mengapa demikian karena guru perlu melakukan pemetaan terlebih dahulu terhadap kebutuhan murid. tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi Sehingga setelah dilakukan pemetaan guru dapat mengetahui kebutuhan muridnya. Setelah itu guru mungkin saja akan harus menyiapkan beragam strategi agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Tidak seperti pembelajaran yang mungkin biasa dilakukan dengan menganggap setiap murid itu adalah sama.

Saya berpendapat bahwa dengan pembelajaran berdiferensiasi maka pembelajaran yang diberikan oleh guru ke murid dapat memenuhi kebutuhan belajar murid. Karena sebelum guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tidak serta merta membagi murid kedalam kelompok dan membiarkan belajar tanpa bimbingan dari guru maupun teman yang lebih mampu. Terkadang dalam belajar kelompok sering juga yang bekerja hanya beberapa saja, yang pintar juga beberapa, sehingga walaupun diberikan belajar kelompok tetap tidak dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman materi dari mereka. Alangkah baiknya dalam penerapan pembelajaran guru masih tetap dapat ikut terlibat merencanakan pembelajaran dengan baik, sehingga apa yang dilakukan oleh guru dapat berjalan dengan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Bila dikaitkan dengan modul materi pada pembelajaran guru penggerak ini, sangat berkaitan karena strategi yang diberikan oleh guru kepada murid dalam pembelajarannya dapat menguatkan apa yang sudah dimiliki oleh murid. Penilaian yang dilakukan tidak serta merta mengukur prestasi anak-anak di segala bidang melainkan hanya menebalkan apa yang sudah dimiliki oleh mereka untuk dapat mereka gunakan untuk menjalankan kehidupan nya menjadi pribadi yang lebih baik. Yaitu manusia yang merdeka yang bertumbuh sesuai kodrat kehidupannya masing-masing untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan.

Referensi :

Kusuma, Oscarina Dewi, dkk. 2020. Pendidikan Guru Penggerak (Praktik Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid). e-Book Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mantap ulasannya

25 Feb
Balas



search

New Post