Desi Oktoriana

Menyukai tulis-menulis sejak di bangku SD. Namun, baru beberapa tahun terakhir dikembangkan lebih jauh. Saat ini menetap di Bandung berprofesi sebagai gu...

Selengkapnya
Navigasi Web

Penokohan 2 (Tante Na Bertutur)

Tante Na sibuk sekali beberapa hari belakangan ini. Kesempatan buatku bertanya soal penokohan jadi terhambat. Untung saja sempat kucatat beberapa penggalan kalimatnya tentang penokohan yang benar-benar imajiner. Bagaimana kesulitan menghadirkan sosok imajiner namun mampu membuat pembaca seakan-akan melihatnya nyata.

Tante Na hanya berpesan cobalah buka pandangan ke tempat lebih jauh. Bukankah sosok imajiner bahkan bisa senyata sosok sungguhan dalam cerita? Tante bertanya padaku siapa tokoh yang paling menginspirasi dalam film fiksi Star Wars? Ehm… Beberapa saat aku tersadar bahwa sosok mereka seluruhnya imajiner tapi rasanya mengenal mereka seperti dalam kehidupan sehari-hari.

Ah, imajinasi ternyata sangat dibutuhkan untuk menciptakan sosok dalam cerita. Apalagi tokohnya tak nyata. Apalagi ya intisari pembicaraan dengan Tante Na kemarin.

Oh, ada yang terlewatkan, jangan takut untuk berpikir out of the box pesan Tante Na. Imajinasi adalah bagian dari kreativitas otak dan jiwa seseorang.

Semakin besar kemampuan berimajinasi dan menggambarkannya dengan baik dalam tulisan maka semakin tampak nyata.

Kucoba membaca dengan baik tulisan Tante Na tentang Halimata.

“Jangan pernah memandang matanya, Dirman!” seru Nek Taniah tegas. Suara paraunya memaksa Dirman agar mendengarkannya dengan seksama.

“Makhluk itu tidak buas, ia sosok yang sangat cantik jelita. Kau pasti akan jatuh hati bila memandangnya,” tutur Nek Taniah lebih jauh.

“Lalu, mengapa aku harus khawatir, Nek?” tukas Dirman penasaran. Rasanya pemuda macam dirinya sudah pantas mendapat jodoh wanita cantik.

“Ah, Dirman, kau terlalu naif. Kau masih bau kencur untuk mengetahui wanita macam apa Halimata itu,” sergah Nek Taniah semakin keras.

“Sudahlah Nek aku sudah dewasa untuk menentukan garis hidupku. Meski Halimata seorang jin sekalipun, bila aku mencintainya aku akan menikahinya,” canda Dirman pada Nenek Taniah bagai orangtuanya yang masih ada dalam hidupnya. Semua orang telah pergi meninggalkan dirinya hanya Nek Taniah yang tak ada garis darah itu yang mengasuhnya sampai dewasa.

Nenek Taniah terlalu mengada-ada bila mengatakan Halimata berbahaya, berkali-kali mencuri pandang dengan perempuan secantik Halimata tak pernah membuat pikirannya kacau atau merasa ingin berbuat hal nista. Memandang mata Halimata hanya menyenangkan hati Dirman semata.

Sorot mata cantik yang membulat indah dengan bulu mata lentik dan tebal alami di tambah lagi kilatan matanya nampak jernih sekali. Belum pernah Dirman mendapati ketajaman mata yang sama dengan perempuan itu. Tapi wajar saja rasanya, Halimata adalah putri Tuan Zarkal yang tampan.

Tuan Zarkal memang memiliki perangai yang buruk. Kekayaannya diperoleh dari menindas dan merampas harta orang lain. Berbeda dengan istrinya yang penyabar dan selalu berusaha menyadarkan suaminya.

“Sudahlah Dirman! Percayalah pada Nenekmu ini, jauhi Halimata! Ia perempuan berbahaya, kau tak perlu membantah perkataanku ini,” ujar Nek Taniah semakin gusar saat Dirman menganggap bahwa semuan hanyalah canda semata.

“Iya… Baiklah, Nek.”

“Nenek bisa memegang janjiku. Aku akan jauhi Halimata makhluk cantik dan mengerikan itu,” timpal Dirman berusaha menenangkan kegusaran Hari Nek Taniah.

Uh, kisah Tante Na membuatku semakin penasaran seperti apa sosok Halimata dalam pikiran Tante Na sebenarnya?

Bersambung.

17 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Cerita keren Bu Desi. Semangat berliterasi semoga sukses selalu. Amin.

17 Sep
Balas

Wah, Pak Edi... Terima kasih sudah hadir di sini... Salam.

17 Sep



search

New Post