Desi Oktoriana

Menyukai tulis-menulis sejak di bangku SD. Namun, baru beberapa tahun terakhir dikembangkan lebih jauh. Saat ini menetap di Bandung berprofesi sebagai gu...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kepada Lesung Angin
Profil FB Lesung Angin

Kepada Lesung Angin

Namanya Lesung Angin, sepertinya bukan nama sebenarnya atau lebih tepat nama pena. Ia benar-benar punya kegilaan yang sama soal puisi dan susunan kata bahkan kesungguhannya lebih lagi. 

Buku-buku bacaan setebal bantal dilalapnya habis. Semuanya demi memuaskan hasratnya mengolah kata menjadi satu susunan yang tak biasa untuk dibaca.

Lesung Angin sosok aslinya tak bisa diketahui karena tak ada foto yang berbicara tentangnya secara terbuka. Hanya ada foto samar wanita berambut keriting sebahu dengan tulang hidung yang tinggi. Mancung.

Biasanya bila saya penasaran dan berusaha membuka file tentang dirinya di Facebook lebih jauh atau bahkan berusah melakukan kontak lewat messenger. Tapi, sekarang semua kegiatan itu sudah lama hilang atau sengaja dilenyapkan. Jadi cukup rasa penasaran sampai pada jawaban pertanyaan saya padanya, mengapa ia begitu bersemangat untuk berpuisi. Tak henti-hentinya mengunggah puisi yang semakin lama semakin matang. 

Jawabnya sederhana, Bukankah Anda yang meminta wanita agar menunjukkan diri bahwa berpuisi bukan milik Laki-laki semata (saya menulis essai tentang mengapa sulit menemukan wanita yang bisa menjadi pemusai-kawaca.com). 

Saya mencoba menangkap sesuatu dari jawaban itu, baginya bahasa adalah hal universal akan selalu menyentuh siapa pun yang mau peduli. 

Puisi adalah perwakilan bahasa dalam jenjang yang lebih tinggi. Sementara yang membedakan seseorang menggunakan bahasa puisi yang tinggi atau sekadar menaruh majas dan diksi adalah dari kesungguhannya berusaha menemukan kesejatian. 

Puisi seseorang terkesan sulit dipahami apakah itu hebat? Bisa ya bisa juga tidak. Tergantung seberapa dalam amanat atau makna yang terkandung di dalamnya. Bergantung juga mampu atau tidak bahasa yang dipakai menyentuh jiwa pembaca.

 Seperti halnya meninggalkan jejak kaki pada pasir di pantai, memang pasti akan menghilang perlahan tetapi bentuknya terbaca dengan jelas. Kemana kaki itu melangkah apakah menjauhi, mendekati  atau bahkan hanya menyusuri pantai. 

Lalu apa hubungannya cerita ini dengan Lesung Angin. Kesungguhan. Untuk wanita-wanita lainnya apakah kurang bersungguh-sungguh?

Saya, wanita yang memastikan bahwa tahapan sebagai seorang pemuisi tidak saya lalui dengan kesungguhan tetapi kecintaan terhadapnya memang tergores dalam.

Ada banyak alasan. Banyak sekali alasan saya untuk tidak terjun ke dalamnya. Biarlah waktu yang menentukan akan mati atau semakin menjadi. Waktu jualah yang menentukan seperti apa Lesung Angin kelak.

 

Kepada Lesung Angin:

biarlah lesung bertalu-talu

menyanyikan lagu-lagu yang terbawa

angin 

menuju penjuru langit

hingga terdengar menjadi sebuah

doa

wanita ini meminta

dengan caranya yang istimewa.

 

Sebuah catatan kecil untuk wanita pencinta puisi.

13 September 2020

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post