Bianglala Kehidupan
puisi ini untukmu, Nak
sebuah cerita tentang bianglala
tujuh warna merupa dalam lengkung yang memukau mata
lanskap langit yang menggoda pujangga sejak Shakespeare membelalak hingga Chairil Anwar menutup mata tiba-tiba
diusianya yang terlampau muda
puisi ini untukmu, Nak
kepedihan tak akan pernah tergambar dalam warna-warni alam dari sejak fajar menyingsing memperjelas garis cakrawala
sampai malam membuat hitam meraja di setiap sudut kota
biarlah perih yang kau rasa bersarang semenjana di dalam dada
basuhlah bersama putih cahaya bianglala yang tercampur sempurna
dalam tiap tarikan nafasmu sebutlah Ia perlahan sampai asa kembali memenuhi jiwa
lalu merah menemukan namanya. Keberanian menyala-nyala
Jingga menjadi warna yang kau pinjam dari senja dan ketenangan meliputi hatimu
Kuning saatnya kehati-hatian menengadah seperti bendera yang berkibar memberi kabar duka saatnya mengingat waktu kita hanyalah sementara.
Hijau yang kau temukan di perbatasan mimpi dan kenyataan adalah kesegaran dan tumbuhnya kasih sayang antar sesama. Tuhan titipkan dalam daun yang menguarkan oksigen tanpa henti.
Biru langit nila ungu susul menyusul menjadi warna-warna gelap yang membuat merah kuning hijau nampak berkilau
Seluruhnya gambaran kehidupan bagai puisi bianglala
Hadir untukmu, Nak
bukan sekali
berulang kali
dan kematian menjemput paksa:
bola mata kehilangan cahaya
21 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Woooow...rasa kangen terobati dengan kehadiran "Bianglala Kehidupan," saya sedikit kepo dengan larik terakhir, dan kematian menjemput paksa : bola mata kehilangan cahaya, semoga ini bukan kesedihan yang bunda D alami.