Banjir...
TANTANGAN HARI KE-301
#TANTANGANGURUSIANA
Musibah adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan terjadi di luar dugaan manusia dan kejadian tersebut dapat berupa kesusahan atau kesenangan.
Tapi, pada umumnya masyarakat lebih memahami makna musibah sebagai hal yang buruk. Padahal, sesuatu yang kita anggap buruk itu sebenarnya ada nilai baik, karena di balik keburukan terdapat hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil.
Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama adalah orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab. Golongan kedua adalah orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa.
Sedang yang ketiga yaitu orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.
Musibah dunia di antaranya adalah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”
Dalam ayat ini disebut beberapa contoh bentuk musibah yaitu, rasa ketakutan, termasuk ke dalamnya ketakutan disebabkan permusuhan dan peperangan yang selalu mengancam jiwa, seperti yang dialami umat Islam di Mekkah sebelum hijrah.
Rasa kelaparan karena kemiskinan, kekurangan harta. Seperti orang Islam yang meninggalkan semua hartanya di Mekkah, sehingga sampai di Madinah tidak memiliki harta apa pun. Termasuk juga kehilangan harta karena bencana, seperti kebakaran, kebanjiran, gempa bumi, kemalingan, dan lain-lain.
Kehilangan jiwa berupa kematian ayah, ibu, anak, dan orang-orang yang dicintai. Dan kekurangan buah-buahan, seperti timbulnya hama yang menyerang hasil-hasil pertanian atau kekeringan yang menyebabkan tanam-tanaman menjadi rusak sehingga tidak mendatangkan hasil yang baik.
Adapun banjir yang sekarang ini terjadi di sejumlah wilayah di kota Solok, merupakan fenomena alam ketika musim hujan tiba. Namun, sebagai makhluk yang berpikir kita harus berusaha mengatasinya dengan segala daya upaya.
Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang disampaikan para nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.
Dalam surah Hud dijelaskan, “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri, disebabkan kondisi lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”.
Hewan, alam, dan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seperti ketika kita sakit, sang dokter akan memberikan resep obat yang terbuat dari bahan-bahan yang dihasilkan alam.
Hukum sebab akibat ternyata tidak ditanamkan dalam jiwa umat manusia. Ada saluran mampet dengan sampah menumpuk, tentunya akan berakibat pada meluapnya aliran pada saluran air itu.
Namun, hal ini tak membuat jera umat manusia membuang sampah ke sungai, sehingga yang terjadi adalah terulangnya banjir di sejumlah daerah.
Banjir juga terjadi karena perilaku tak terpuji dengan merusak keseimbangan ekosistem alam, pengerukan hasil tambang dengan menghancurkan gunung-gunung dan hutan penyangga air.
Banjir dalam pendekatan ekologis bukan hanya sekadar dipahami sebagai musibah atau azab dari Tuhan, melainkan juga gejala kesakitan ekologis yang diakibatkan manusia tak mengikuti hukum Tuhan.
Ketika manusia merusak keteraturan tersebut, efek samping akan berubah menjadi musibah. Dan, sudah dapat dipastikan apabila musibah tersebut berasal dari ulah manusia yang eksploitatif terhadap alam sekitar, tepat rasanya kalau disebut sebagai azab.
Oleh karena itu kesadaran kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah dan Khalifatullah di dunia perlu direkonstruksi ulang untuk menumbuhkan jiwa pengabdian yang sebenarnya. Bukan dengan menutup mata dan menutup telinga untuk menumpuk harta semata.
#menyikapibanjirdenganikhlas
#belajarsepanjanghayat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar