damayanti yitianingsih

Saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SD AL Imam Islamic School, Cileungsi, kab. Bogor. Lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya tahun 20...

Selengkapnya
Navigasi Web

Sayangmu menyakiti

“Bun, tugas SBK anak anak dibantu lagi nih!” lapor salah satu wali kelas. Ini sudah kesekian kali saya menerima laporan pengambilalihan tugas anak. Padahal anak anak ini sudah cukup besar dan bisa mencari sendiri bahan bahan SBK mereka. Sedih rasanya.

Tahukah wahai orangtua? Kami memberi tugas kepada anak ada tujuannya. Kami ingin memberikan anak kesempatan. Kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Minimal bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bukankah itu keahlian yang diperlukan anak anak ketika mereka dewasa? Jika kesempatan ini diambil, lantas kapan anak anak ini belajar? Begitu sayangnya atau gak mau repot melihat kehebohan anak?

Dampak dari sikap yang memanjakan ini, keluarlah suatu pernyataan yang menyedihkan dari anak, : “Tenang aja, nanti juga dikirim sama mama mama kok!” saya sebagai guru merasa pernyataan ini adalah bukti kegagalan sekolah menumbuhkan rasa tanggung jawab anak.

Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa orangtua akan selalu menyiapkan kebutuhan mereka. Ada tugas tinggal sampaikan ke orangtua. Bim salabim! Orangtua yang akan segera membereskan “masalah” mereka.

Mari kita coba renungkan wahai orangtua. Sampai kapan kita mampu mendampingi anak-anak kita. Mereka tumbuh dewasa dan kita semakin menua. Secara sunatullah, semakin tua semakin menurun kemampuan fisik kita. Bahkan mungkin, sampai disuatu titik tertentu,justru kita yang akan membutuhkan bantuan anak kita. Disaat seperti itu, apakah anda yakin cara mendidik anda saat ini bisa menghasilkan anak yang bisa diandalkan?

Jika sudah sampai pada perenungan itu, dan anda setuju dengan saya, ayo kita mulai belajar. Kita sama dengan anak-anak kita. Sama sama belajar. Mereka belajar bertanggung jawab. Kita belajar menempatkan diri kita di posisi yang semestinya. Mendampingi. Kita dampingi mereka dalam berproses. Kita ijinkan mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang bisa ditolerir. Karena sejatinya dari kesalahan itu mereka akan belajar. Dari kerepotan belajar mereka akan mendapatkan pengalaman yang berharga. Kita tidak pernah tahu, pengalaman mana yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang cemerlang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post