10 BOTOL BEREMPAT
10 BOTOL UNTUK EMPAT ORANG "Sepuluh botol untuk empat orang?" tanya saya terperangah. Usia SMP itu sudah bangga dengan keberhasilan menenggak minuman keras. Kali ini, saya ngobrol santai dengan empat siswa yang istimewa. Hampir semua nilainya kurang dari KKM. Penyebabnya? Sering terlambat, sering alpa, sering tidak mengerjakan tugas. Ternyata setelah saya panggil, dia satu kelompok di luar sekolah. Kelompok ngopi ketika keluar rumah. "Kamu tidak mabuk?" tanya saya pada salah satu siswa yang paling besar, yang menurut teman-temannya paling sering mengajak membolos. "Itu Pak, yang paling parah!" katanya sambil menunjuk salah satu temannya. "Baru dua gelas, sudah muntah-muntah. Gitu katanya jago minum!" begitu bangga mengolok-olok temannya yang dianggap tidak jago dalam minum miras. Saya cuma mengelus dada dalam hati. Rayuan saya pada mereka berhasil. Saya minta mereka untuk bercerita apa adanya. Tidak usah takut. Saya tidak akan marah. saya akan membantu mereka untuk menjembatani informasi kepada bapak ibu guru pengajar yang bosan dengan berbagai alasan yang dibuat karena sering melanggar peraturan sekolah. "Berapa macam?" "Hanya dua, Pak." saya perhatikan wajahnya, santai tranpa ada rasa risih bercerita tentang ulahnya pamer minum yang sering dilakukannya. Situasi benar-benar santai. Tanpa ada rasa takut menghadapi kepala sekolah. Tanpa ada rasa sungkan bercerita kenakalannya di luar sekolah. Disebutkannya dua merek minuman. Saya pun sok tahu dengan menyebutkan merek minuman keras yang lain. Saya ingat, ketika masih remaja dulu punya teman akrab yang suka miras. Ternyata murid saya lebih kenal dari saya. Lebih hafal merek-merek minuman keras yang sering dia minum. "Itu lo Pak. Semua merek dia mau. kalau saya pilih-pilih. kalau rasanya nggak enak saya nggak mau." keempat anak itu tertawa saling menuding yang sering mabuk. Bercerita kalau mabuk selalu marah-marah. Menertawakan kalau mabuk tertidur di jembatan. "Kamu dapat uang dari mana?" rasa penasaran saya muncul, ketika mereka bercerita bahwa hampir tiap hari minum. kalau pun tidak punya uang, pasti ada jalan. Keempat anak itu. Berkisah dengan duanianya. bangga dengan keberhasilan minumnya. Melupakan kepedihan hidupnya. Karena korban perceraian orang tua mereka.
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar