Membaca Kehidupan
Kalau kita menghadapi masalah dengan kalut, menyalahkan orang lain, penuh curiga, dan membiarkan api prasangka membara, maka yang datang kepada kita adalah faktor non Tuhan.
Sebaliknya, kalau kita hadapi masalah dengan tabah. merenung, ikhlas mengoreksi diri, maka yang datang adalah nilai-nilai Ketuhanan.
Kutipan kalimat itulah yang membuat saya tertarik untuk segera menyelesaikan membaca buku “Meminjam Kesabaran Tuhan” karya Yusron Aminulloh. Seorang pegiat literasi, juga master trainer Menebar Energi Positif (MEP) yang berkeliling Indonesia tiada henti.
Membaca buku ini seperti sedang bercermin dan membaca kehidupan dari banyak sisi. Kelihaian penulis adalah bisa melihat makna setiap peristiwa yang ditemuinya, kemudian menuangkan dalam tulisan sederhana, mudah dimengerti, dan enak dibaca.
Buku ini terdiri dari 30 catatan, yang terbagi menjadi enam bingkai. Di setiap awal catatan , penulis memberikan kutipan yang membuat pembaca untuk merenung sejenak, memahami dan berinstropeksi diri. Karena energy positif terpancar dari kutipan-kutipan tersebut.
Enam bingkai atau frame tersebut adalah Membaca Hati, Membaca Ketegaran, Membaca Energi, Membaca Perilaku, Membaca Zaman, dan Membaca Literasi Kontekstual,
Catatan - catatan kehidupan dari beragam peristiwa tersebut disusun penulis sedemikian sehingga makna yang terkandung didalamnya terasa lebih mengena untuk siraman batin. Walaupun antar catatan terkadang tidak saling berhubungan.
Untaian kalimat yang ada bisa menularkan pembaca untuk berpikir positif. Misalnya bagaimana bahagia adalah berawal dari diri sendiri, bahagia ketika bermanfaat untuk orang lain, belajar memaafkan dan tidak menyakiti orang lain, dan pentingnya kegiatan literasi untuk masyarakat.
“Meminjam Kesabaran Tuhan” yang dijadikan judul dalam buku ini terdapat di halaman 121, di frame yang ke -4. Dalam menghadapi masalah dalam kehidupan, hendaklah kita melihat semua dari sudut pandang kebaikan, yang dalam istilah penulis disebut dengan Mencerdaskan Penglihatan. Kesabaran Allah berbeda dengan kesabaran makhluk. Tiada yang bisa menandingi kesabaranNya. Namun manusia yang lemah seperti kita pada saatnya harus meminjam kesabaran Allah tatkala tidak mampu menghadapi peristiwa yang diri kita tak lagi mampu menghadapinua. Meminjam kesabaran Tuhan, kesabaran Allah, adalah sebuah kekuatan.
Terasa ada yang mengalir lembut di hati tatkala membaca untaian kata-kata di buku ini. memotivasi pembaca untuk selalu berpikir positif. Energy positif dalam jiwa akan keluar dalam tindakan kebaikan.
Terima kasih buat Yusron Aminulloh atas bukunya…
Resensi Buku
JUDUL : MEMINJAM KESABARAN TUHAN
PENULIS : YUSRON AMINULLOH
PENERBIT : LEMBAGA LADANG KATA
CETAKAN 1. APRIL 2016
JUMLAH HALAMAN 182

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Buku yang keren ya bun,?
Iyaaa.. sangat kereenn
Bapsk Yusron Aminulloh memang luar biasa. Saya pernah mengikuti acara beliau di Medan "Menebar Energi Positif" , memang luar biasa. Salam literasi dari Medan...ibu. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.
Salam Literasi dari Balikpapan... Aamiin, sehat dan sukses selalu...
Cover dan judulnya bagus, isinya pasti luar biasa keren karena menebar energi positif. Salam kenal ya bu, resensi yang tidak kalah bagus dengan bukunya.
Terima kasiih bund... Salam kenal dan Salam Literasi