Ayo Sugiryo

Guru di SMA Nasional 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto. Sedang belajar menulis dan Buku Perdana yang sudah diterbitkan: "From Home With Love" Tahun 2016, Buku ...

Selengkapnya
Navigasi Web

Dan Pak Guru Itu Adalah Aku (#25_Harus Malam Ini)

Intensitas pertemuanku dengan Mba Dian menjadi semakin sering seiring dengan berbagai kegiatan yang menjadi ajang pertemuan baik secara kebetulan maupun secara tidak sengaja. Urusan dubbing yang juga semakin sering karena ramainya order video shooting di Top Photo. Belum beberapa kegiatan yang kadang membutuhkan kami untuk menciptakan terjadinya sebuah pertemuan yang tak terhindarkan. Keterbukaan diantara kami selama perjalanan di atas becak semakin terkuak dan menumbuhkan simpati diantara kami berdua. Cerita-cerita tentang keluarga masing-masing mulai kami jadikan pedoman bahwa betapa kami sudah mulai saling membuka sedikit latar belakang kami masing-masing.

Pertemuan demi pertemuan membuatku semakin yakin bahwa dialah perempuan yang mungkin bisa diajak bersama dalam pergulatan hidup selanjutnya. Mungkin ini terdengar terlalu naif dan melambung. Namun aku semakin yakin dan akan terus bermimpi bahwa chemistry yang tercipta diantara kami semakin terasa. Kami seperti dua orang yang saling membutuhkan dan menyayangi tetapi ragu untuk memulai menyatakannya. Aku pun sedikit dapat menyimpulkan dari setiap pandangan matanya bahwa diam-diam dia pun menaruh hati padaku. Mudah-mudahan ini bukan merupakan kesimpulan konyol yang akan mempermalukanku ketika suatu saat nanti aku akan menyatakan sesuatu padanya. ‘Ibu, tolong anak laki-lakimu ini.’ Ibuku yang di desa pasti ikut merasakan apa yang aku rasakan.

Hari ini adalah hari yang kesekian dari kegiatan dubbing vidio di studio milik Pak Chandra. Siang tadi aku mendapat telepon dari Pak Salim bahwa malam nanti akan ada dubbing lagi. Tentunya aku pun harus segera menghubungi mba Dian untuk dubbing nanti malam. Aku mencoba menelepon rumahnya dan ternyata dia masih sedang kuliah. Mungkin sebaiknya aku mendatangi langsung saja rumahnya. Ini adalah kesempatan baik buatku untuk mencoba menata hati dan kata bahwa aku mencintainya harus segera aku sampaikan.

Keyakinan nuraniku selalu membisikan bahwa tak akan ada lelaki lain yang pantas mendampingi dia selain diriku. Akulah orangnya yang akan pertama kali menyatakan cinta kepadanya. Tetapi logikaku berkata lain bahwa mungkin saja ada lelaki lain yang akan lebih dulu menyatakan hal yang sama kalau aku terus menundanya. Aku semakin dibuat gundah. Aku tak mau mendengar berita bahwa ternyata sudah ada lelaki lain yang lebih dulu menjadi teman dekatnya. Aku tidak siap hal ini akan terjadi. Harus malam ini. Aku sudah membulatkan tekadku untuk menyampaikan kata-kata penting ini di atas becak ketika dalam perjalanan pulang dubbing. Dan ini sungguhan karena ini bukan acara reality show di TV yang akan mendapatkan rating tinggi karena banyak pemirsanya. Rencana ini harus segera aku realisasikan sebelum semuanya terlambat.

Waktu berjalan begitu cepat. Jam di kantor tiba-tiba saja sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Saatnya aku berkemas dan segera pulang ke tempat kos. Aku harus menyiapkan mentalku sebaik-baiknya bukan penampilanku. Aku harus siap dengan segala yang akan terjadi sekalipun itu penolakan.

Selepas magrib, aku bergegas ke rumahnya. Aku hanya berjalan kaki dari rumah kos ke tempatnya. Karena jarak antara rumah kosku dan rumahnya tidaklah jauh hanya cukup menyebrang dua jalan raya dan cukup mengambil shortcut, sudah sampai. Kurang lebih satu kilometer.

Tak banyak orang di rumah itu sama seperti biasanya. Aku disambut dengan senyum ramah sang ibu yang tampak sangat bijaksana. Memang sudah menjadi kebiasaan. Aku jarang disambut mba Dian langsung karena aku tahu dia pasti masih sibuk di dapur membantu menyiapkan makan malam keluarga. Dia tergopoh-gopoh menyambutku dengan sedikit kerutan di dahinya, terlihat ada kecemasan pada pancaran matanya. Ada apakah gerangan?

”Maaf Nak,” sang ibu menegurku selesai aku mengucapkan salam. “Diannya, sedang nggak di rumah. Barusan dia pergi sama temannya, Fredi...” katanya terkesan ragu untuk menyampaikan.

Aku terhenyak dan serasa tulang-tulangku meleleh. Sekuat tenaga aku berusaha menetralisir keadaan. Tapi anehnya sang ibu tampak begitu cemas dengan keadaan ini. Bukankah kehadiranku juga tanpa ada perjanjian temu sebelumnya, jadi kalau dia sedang ada acara ya sudah menjadi konsekuensiku. Tapi sang ibu sangat menunjukan kecemasannya dan seolah-olah tahu dengan apa yang aku rasakan.

“Oh, sedang pergi ya Bu? Ya sudah gapapa kok bu. Saya tadi memang tidak menelpon dulu kalau mau menjemput ada dubbing hari ini. Saya pikir tidak ada acara.”

“Tadi sih bilangnya keluar sebentar, entah mau beli apa atau ke mana gitu, ibu gak begitu jelas.”

“Nggak apa apa kok Bu. Ya udah saya pamit dulu saja Bu.”

“Duduk dulu saja Nak. Kayaknya nggak lama kok. Ditunggu dulu barangkali limabelas menit atau setengah jam dia pulang, soalnya dia bilang nggak lama kok,” sang ibu seperti memelas dan merasa bersalah.

“Baiklah Bu,” Aku tak kuasa menolak. Antara tujuan profesional dan pribadiku membuatku harus tetap tinggal dan menunggunya. Aku pun menempatkan diri di atas sofa sesantun mungkin. Aku melirik jam dinding yang di atas sana menunjukan pukul 19.15. Sang ibu ikut duduk di depanku. Kami berhadap-hadapan. Tak terasa kami sudah larut dalam obrolan yang hangat entah tentang apa saja. Dia banyak bertanya mengenaiku, akupun banyak bercerita tentang asalku, orang tuaku dan pekerjaanku tanpa aku tutup-tutupi. Rupanya beliau sangat berkenan mengobrol denganku. Dia menganggapku seolah telah menemukan anak lelakinya kembali yang telah lama hilang.

Aku sangat senang bisa ada kesempatan berbicara dengan sang Ibu. Ternyata dia begitu ramah dan baik. Aku seperti menemukan orang tuaku sendiri. Pantas saja kalau Mba Dian betah tinggal bersama budhenya ini.

Banyak hal menarik yang aku dapatkan dengan mengobrol dengan orang tua. Aku bisa menangkap kegelisahan orang tua terhadap anaknya, walaupun Mba Dian bukanlah anaknya, hanya keponakannya. Tapi beliau tampak begitu menyayangi. Hal yang sangat luar biasa dan aku harus banyak belajar dari beliau.

Setidaknya obrolanku dengan sang ibu mampu sedikit melupakan tujuan pribadiku untuk menyatakan sesuatu yang sudah aku persiapkan.Tak terasa sudah tiga puluh menit lepas dari jam kedatanganku. Rupanya yang aku tunggu pun tak kunjung datang. Aku pamit dengan sedikit menata hati yang dipenuhi berbagai rasa dan tanya.

Selama ini rupanya aku salah mengartikan kedekatan hubunganku dengan Mba Dian. Sebagai lelaki aku merasa terlalu lugu untuk mendapatkan pengalamanku bergaul dengan perempuan. Aku terlalu optimis dengan bualan-bualan anganku sendiri. Aku belum bisa membedakan pemahaman antara teman, partner kerja, dan kekasih. Aku masih terlalu awam untuk bisa lulus ujian pemahaman tingkat dasar ini. Peristiwa itu menjadikan bahan pelajaran terbaik bagiku untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan perasaan seorang perempuan. Aku tidak boleh gede rasa mungkin sebaiknya mati rasa.

Aku mencoba menyikapi perasaan ini dengan sebiasa mungkin dengan tidak mempengaruhi apapun yang telah menjadi rutinitas pekerjaanku. Aku tetap harus bekerja secara profesional dan tidak mencampurkan antara perasaan seorang lelaki polos yang mencoba jatuh cinta dan pekerjaan. Mba Dian adalah partner kerjaku yang baik. Dia pintar dan rendah hati. Aku harus pahami itu dan tidak merusaknya. Akan tetapi perasaan lelaki polos ini tetap saja tak bisa dipungkiri bahwa getaran-getaran elektromagnetik asmara yang halus ini tetap bergetar ketika aku bertemu dengannya. Mungkin itu bagian dari sudut normalku sebagai manusia yang punya rasa.

Besoknya, sebelum aku menelpon dia untuk janji dubbing yang gagal semalam, aku terlebih dulu mendapatkan telepon darinya. Aku tak menyangka kalau dia akan bercerita panjang lebar mengenai kejadian semalam. Dia dimarahin habis-habisan sama ibunya. Betapa dia sangat kesal dengan tuduhan ibunya.

“Coba bayangkan Mas Suryo,” dia mulai bercerita di telpon. “Masa Mas, aku dimarahin habis-habisan semalam gara-gara aku keluar sama temanku makan malam. Dikiranya aku tuh sudah janjian sama Mas Suryo terus aku pergi sama teman lain. Lucu kan!” ceritanya menggebu.

“Hahaha....” aku tertawa

“Lho kok mas Suryo malah tertawa!”

“Ngga papa. Lucu aja.”

“Aku kan gak janji apa-apa sama mas Suryo kan?” tanyanya meyakinkan.

“Enggak, nggak ada yang janjian,” jawabku mengiyakan.

“Nah, aku kan bebas mau pergi ke mana, sama siapa, suka suka aku kan. Anehnya lagi ibuku tuh bilang kalau kita itu katanya pacaran, Mas. Bilangnya, kasihan pacarnya nungguin lama banget di rumah malah enak-enakan keluar sama lelaki lain. Kasihan tuh Nak Suryo, gitu katanya! Terus, ibuku bilang lagi, sebenarnya pacar kamu tuh yang bener yang mana sih? Nak Suryo apa Fredy? Aku ya bingung, aku tuh nggak pacaran sama siapa-siapa.”

“Ha ha ha..” aku ketawa lagi selepas-lepasnya. Semacam ada dorongan syaraf yang seketika membuat organ tertawaku meledak ketika ada beberapa pernyataan penting dari kata-katanya di pembicaraan telepon itu.

Tuhan memang Maha Baik dan Maha Segalanya. Ternyata kegundahanku tentang posisi dia telah terkuak dengan sendirinya gara-gara kejadian semalam. Aku seperti mendapatkan penjelasannya dan ternyata kesempatan itu masih ada. Mba Dian ternyata dalam posisi netral. Aku harus segera mengambil langkah cepat.

Hari itu, 15 Maret 1996, aku masih ingat betul tanggal itu karena tentunya hari itu sejarah telah mencatat bahwa seorang pemuda polos asal dari desa telah berani mengungkapkan perasaan cintanya kepada seorang perempuan yang terus mengoyak-oyak hatinya.

Tidak seperti malam biasanya. Malam itu langit begitu cerah lengkap dengan berbagai rasi bintang yang membentuk lambang-lambang cinta di atas sana padahal biasanya langit mendung tertutup awan dan gerimis menyelimuti malam kota Purwokerto di bulan Maret.

Kata demi kata berhasil aku luncurkan dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhku saat itu. Dan sesuatu yang akan terjadi baik itu jawaban penerimaan atau penolakan akan segera mengakhiri kegundahan hatiku selama ini. Tapi aku percaya pada gugusan bintang yang membentuk lambang-lambang cinta yang bergelayut di langit malam itu. Itu pertanda bahwa kedua mataku sudah tidak bisa bekerja sebagaimana seharusnya karena mata hatiku lebih menguasai seluruh pandangan mataku. Dan benar pula apa yang dilihat mata hatiku bahwa tidak hanya gugusan bintang itu yang membentuk lambang-lambang cinta, akan tetapi semua benda yang ada di sekitarku berubah bentuk menjadi lambang-lambang cinta dan bunga Katheleya yang ditanam di pot-pot di serambi rumahnya yang tadinya kuncup tiba-tiba bermekaran ketika dia menjawabnya dengan lirih dan senyumnya yang tulus mengembang menghiasi pipinya yang kemerahan. Berakhirlah kegundahanku di malam itu. Sehingga sejak 15 Maret 1996 tercatat di semua buku sejarah kehidupanku bahwa kami sepakat untuk saling mencintai.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Akhirnya beban di dadaku ikut terlepas juga. Suryo sudah bisa menyatakan cintanya para pujaan hati. Pasti cerita berikutnya akan lebih seru....lanjut

06 Oct
Balas

Ditunggu saja Bu. Masih banyak keaeruan nantinya.. inshallah.

07 Oct

Duuh...Suryo akhirnya menemukan tambatan hati, belahan jiwa. Hmm...semakit larut saja rasanya. Salam sehat dan sukses selalu pak guru. Barakallah.

07 Oct
Balas

Alhamdulillaah iya Bu. Terimakasih atas kesetiaannya membaca kisah Suryo

07 Oct

Iya Bu. Akhirnya. Inshallah Bu.

07 Oct
Balas



search

New Post