Dan Pak Guru Itu Adalah Aku (#19_Tamu Pak Andika)
Malamnya, ketika mata dan hati ini belum bisa diajak terpejam, aku mencoba mengajak berbicara sama cicak yang senantiasa menemaniku sepanjang malam-malamku di kosan. Si cicak hanya tersenyum ramah sambil sesekali mencoba menangkap buruannya yang gagal ditangkap. Senyumnya sedikit mengisyaratkan ‘Sudahlah Suryo, kamu tak usah berbohong. Katakan pada dunia kalau kamu sedang terpaut hati dengan seseorang.’ ‘Iih.. apaan sih? Dasar cicak sok tahu.’
Tapi mungkin ada benarnya juga sih kata si cicak itu bahwa kata hati ini tak bisa dibohongi. Aku memikirkan hal ini. Hal yang sulit untuk aku jelaskan. Hal yang masih menggantung di sisi gelap dan terang di antara langit yang sering tertutup awan di atas kota Purwokerto. Dan awan-awan itu pun terus menutupinya dari hari ke hari hingga berbulan-bulan. Aku pun tak pernah mendengar lagi tentang Pak Asto, International College, atau pun salah seorang karyawannya yang perhatian itu. Mungkin aku berusaha untuk melupakannya di sela-sela rutinitas di kantorku di Top Photo yang merupakan perusahaan group photo studio yang lumayan besar dan tersebar di beberapa kota di jawa tengah dan jawa barat. Jadi kesibukanku sebagai karyawan bagian admin itu cukup menyita waktuku hingga aku kadang melupakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaanku. Termasuk perasaan yang selama ini aku belum pernah rasakan. Yaitu perasaan gusar .
Waktu terus berlalu hingga sampai hitungan bulan aku tidak pernah lagi tahu keberadaanya. Aku masih seperti yang dulu. Aku masih tak ada keberanian untuk menghubunginya walaupun nomor telepon dan alamat rumah sudah di tangan. ‘Dasar pengecut!’ lagi-lagi si cicak di dinding kamarku berkomentar.
Pernah aku mencoba memutar nomor telepon itu, begitu ada kata halo di seberang aku tutup kembali teleponnya. Sisi hatiku yang kasar mengatakan, kamu tak perlu melakukan hal yang sia-sia. Meneleponnya atau mengunjunginya tanpa tujuan yang jelas adalah hal yang memalukan dan buang-buang waktu saja. Dia itu mahasiswa dan guru bahasa Inggris yang sibuk. Dia bukan orang yang selevel denganmu. Dunianya berbeda dengan duniamu. Kalau diibaratkan, kamu dan dia itu seperti bumi dan bulan. Tetapi sisi hatiku yang lembut terlalu lemah untuk bisa menyangkalnya. Iya aku sadar itu. Tetapi tak ada salahnya mencoba. Dan mungkin waktu itu akan datang, tapi entah kapan. Walaupun jauh, bukankah bulan bisa memberikan cahaya ke bumi di malam purnama. Mungkin tidak secerah matahari yang mampu menyinari bumi setiap hari. Tapi kedatangan bulan bukankah selalu dinanti?Tapi entah kapan.
Dan benar apa yang dikatakan sisi hatiku yang lembut itu. Aku lupa mencatatnya hari itu hari apa tanggal berapa. Sepulang bekerja, sekitar jam lima sore, aku sungguh dikagetkan dengan pertemuan tak terduga. Aku masih ingat betul parasnya yang dihiasi senyum yang sangat ramah dan keibuan. Tapi membutuhkan beberapa detik untuk dapat memastikan bahwa dialah orangnya.
Hampir satu langkah kami saling melewati ketika berpapasan. Dia dari arah barat, aku dari arah timur. Karena disibukan oleh konsentrasi masing-masing saat berjalan, aku hampir saja tidak mengenalnya. Mungkin dia juga sama, sudah lupa sosokku yang hanya bertemu satu kali.
Tapi aku masih ingat senyum itu, menyejukkan dan keibuan. Dan penampilannya sedikit berbeda sewaktu aku bertemu dulu di seminar. Dia memakai celana jeans tiga perempat dengan sweater pendek berleher dan menggendong tas kecil terbuat dari anyaman tali kulit kayu, lincah.
Setelah yakin, aku spontan menyapanya lebih dulu, “Lho, mba. Mau ke mana?”
“Eh, Mas!” dia berhenti dan terhenyak kaget sempat beberapa detik dia seperti mengingat-ingat siapa diriku dan diapun langsung tersenyum tanda tak lupa sama aku. Kemudian dia menunjuk sebuah toko yang akan dia kunjungi tanpa sempat menyebutkan namanya.
Hanya saling menanyakan kabar masing-masing dan sedikit basa-basi, kemudian kami pun berpisah lagi. Aku tak mampu berbicara banyak. Detak jantungku yang tak beraturan membuatku kesulitan untuk berbicara.
Waktupun berlalu lagi. Entah berapa purnama lagi lewat begitu saja tanpa ada keberanian. Pertemuan kedua itu sungguh menggetarkan dan membuatku memikirkannya. Aku tak menyangka akan ada pertemuan kedua itu. Akankah masih ada pertemuan ketiga, keempat dan seterusnya. Mengapa aku tidak punya keberanian untuk membuat pertemuan itu?
Tetapi benar saja. Tuhan memang telah membuat sebuat rencana manis untukku untuk bisa bertemu dia lagi. Adalah pertemuan ketiga. Aku mengayuh sepedaku, sepeda kantor, setelah habis mengantar surat penting ke sebuah toko foto tak jauh dari Top Photo. Tak lepas dari tatapanku, sesosok perempuan yang sudah tak asing bagiku sedang berdiri di pinggir jalan. Dia tampak lebih rapi kali ini.
Aku menghentikan sepedaku tepat di hadapannya dan membuatnya terperanjat kaget.
“Menunggu siapa mba?” tanyaku lancar.
“Eh, Mas! Nunggu angkot, nih. Mau ke kampus.” Sempat terlintas di pikiranku untuk berbaik hati memboncengkan dia naik sepeda ke kampus. Ah, konyol banget! Tidak! Mana dia mau diboncengi pakai sepeda. Sempat terbersit dipikiranku adegan film romantis Rano Karno yang sedang berboncengan sepeda dengan Yesi Gusman dalam film-filmnya yang terkenal di tahun delapan puluhan. Dan itu benar-benar nggak mungkin aku lakukan sekarang.
“Oh, ke kampusnya sendirian?”
“Iya Mas,”
“Nggak nyangka ya bakal ketemu di sini,” ungkapku memberanikan diri soal pertemuan ini.
“Iya Mas. Nggak nyangka juga. Mas Suryo dari mana atau mau ke mana?” tanyanya ramah diikuti senyumnya yang anggun itu.
“Nggak kemana-mana. Main saja.” jawabku sekenanya.
“Masa jam kerja begini bisa main.”
Aku kaget. Kena, deh! Aku terciduk!
“Sedikit ada keperluan sih, nganter surat.” aku berusaha menjelaskan karena aku juga tak mau dianggap karyawan bodoh yang suka korupsi waktu.
Belum selesai percakapanku tiba-tiba angkot warna oranye pun datang, dan dia buru-buru melambaikan tangannya dan segera berlalu bersama angkot itu dan aku masih tertegun sendiri duduk di atas sepedaku. Aku melambaikan tangan tanda perpisahan. Pertemuan episode ketiga selesai.
Di tempat kos aku merenung. Irwan paham aku terlihat sering melamun. Akhirnya, aku pun membuka diri dengan teman terbaikku ini. Irwan menyalahkanku karena aku terlalu pengecut!
“Kamu memang payah, Yo! Ajak dia ke mana gitu. Sekedar makan siang atau ngapain lah! Masa kamu nggak berani,” Irwan teman kosku ngotot ketika aku cerita tentang pertemuan-pertemuan itu dan dia tahu tentang kegusaranku yang dengan mudah tertangkap olehnya.
“Enak saja Wan. Mana bisa aku ngajak anak perempuan tanpa tujuan yang jelas. Enggak lah! Aku kan orang baik-baik,” jawabku yang selalu mendengarkan banyak pertimbangan yang ada di otakku. Takut begini takut begitu. Efek dari karakterku yang masih minder dan cemen.
“Tahu nggak Yo, perempuan itu harus didekati, bukan mendekati. Laki-laki itu harus punya keberanian. Lalu buat apa kamu menyimpan rasa itu kalalu kamu tak melangkah untuk mendapatkannya?” jelasnya sok menggurui.
“Ah, kamu sok tahu banget sih. Enggak lah. Aku nggak bisa seperti itu, kamu berfikir terlalu jauh Wan. Aku biasa saja kok, nggak ada apa-apa.” Aku tetap pada pendirianku walaupun hatiku makin gusar. Kalau memang kata-kata Irwan benar apakah aku tetap mengikuti kata hatiku? Mungkin aku akan tetap seperti ini. Walau ada sedikit keyakinan bahwa suatu saat nanti kalau memang Tuhan sudah membuat rencana baik untukku, pasti akanlah terjadi masa itu. Itu keyakinanku.
Suatu siang disela-sela kesibukan kantor, aku dikejutkan dengan dua orang tamu yang salah satunya aku sangat mengenalnya. Dia datang ke kantorku! Ada apa ya? Ini benar-benar seperti yang aku pikirkan. Bakal ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang direncanakan Tuhan untukku. Aku ber-positive thinking pada Tuhan dan pada diriku sendiri bahwa momen ini memang benar-benar sudah tertulis indah untukku. Aku terkejut bukan main. Dia datang bersama seorang ibu bermata sipit dan tampak akrab. Tapi kenapa dia datang dengan ibu-ibu? Mungkin dia ada hal yang serius yang ingin dia sampaikan kepadaku tapi tidak berani menyampaikan sendiri. Aku menjadi semakin gemetar susah mengendalikan detak jantung yang semakin tak karuan.
Ci Yeni segera menyuruhku untuk membuka pintu kantor begitu ada bayangan tamu yang terlihat dari dalam ruangan yang hanya dibatasi tembok dan pintu kaca itu.
“Oh, Silahkan, silahkan, Mba, Bu,” buru-buru aku mempersilahkan mereka untuk duduk. Sementara aku sibuk menata hatiku dan mengatur otakku untuk mempersiapkan kalimat-kalimat terbaiknya. Ini benar-benar tamu istimewa.
“Maaf Mas. Mm, Pak Andikanya ada?” tanyanya seramah mungkin dan tak lupa senyumannya mengembang. Dia begitu formal, dan seolah-olah dia seperti tidak mengenalku. Ah, itu pasti cuma perasaanku saja.
“Oh, iya. Ada, ada! sebentar ya.” Aku menjawab seramah mungkin dan langsung berbalik memanggil atasanku, Pak Andika. Pak Andika tampak sibuk. Dengan malas-malasan dia bangkit dari tempat duduk. Pak Andika sempat bertanya dari mana tamunya. Setelah aku jawab anak buahnya Pak Asto dia pun segera keluar ruangannya menemui tamu itu.
Aku tak tahu ada urusan apa antara dia, ibu-ibu itu, dengan Pak Andika. Pastinya urusan yang amat serius. Mungkin mewakili Pak Asto dalam urusan kerjasama antar lembaga itu dan Top Photo. Atau mungkin akan ada event besar serupa sehingga membutuhkan kerjasama lagi. Aku berfikir positif lagi karena tampak terlihat dari tembok kaca mereka serius berbicara di ruang tamu. Aku menghela nafas. Ci Yeni dan teman-teman meledekku. Mereka tahu kalau perempuan yang datang itu pernah melihatnya di foto yang mereka jumpai di gagalan foto. Tapi hatiku semakin gusar. Setelah aku tunggu-tunggu hingga berakhirnya pertemuan mereka dengan Pak Andika, tak ada sedikitpun hal-hal yang berhubungan denganku. Aku sedikit berharap ada sesuatu yang disampaikan padaku lewat Pak Andika. Ternyata nihil. Pak Andika tak menyampaikan apapun tentang kehadirannya di kantorku. Oh, ternyata dia datang ke kantor hanya untuk menemui Pak Andika bukan aku. Baiklah, aku menjadi semakin tahu diri tentang keberadaanku. Bahwa aku tak pantas untuk memikirkannya. Langkahku sudah benar. Untung aku tidak terjebak mengikuti saran Irwan teman kosku yang sok tahu itu.
****
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Selamat cerpan sampai # berapa. Semoga sukses
Amin inshaallah Pak. Terimakasih
Bisa jadi mas Irwan betul juga...hehehe. Suryo...Suryo. Lanjuuutttt. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...pak guru.
Wah bisa iya bisa tidak Bu. Tunggu kisah selanjutnya. Terimakasih Dan l salam kembali
Sepertinya ceritanya masih kita tunggu nih....
Hehe terimakasih Bu. Maaf kepanjangan ceritanya..