Tugas 3.3.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.3
Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya.
Pada kegiatan modul 3.3 mendapatkan gambaran mengenai kepemimpinan murid yang berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila. Kepemimpinan murid dalam konsep bagaimana murid dapat diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide dan gagasan (Suara), membuat dan menentukan pilihan dalam pembelajaran sehingga murid akan merasa memiliki sehingga kegiatan pembelajaran menjadi semakin berkualitas. Pada modul ini juga mendapatkan gambaran mengenai bagaimana untuk mewujudkan hal tersebut yaitu dengan menciptakan / mencari lingkungan dan melibatkan komunitas yang diharapkan dapat mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid.
Voice, choice, dan ownership mengajak murid untuk menjadi pelajar yang memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Mengajak murid untuk mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Voice, choice, dan ownership mengajarkan murid mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan. Memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Voice, choice, dan ownership akan menjadikan murid lebih mandiri yaitu murid yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Terakhir Voice, choice, dan ownership mendidik murid menjadi kreatif, mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak.
Kegiatan pada modul ini telah menggali sebuah pengalaman yang pernah dialami, kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran yang dalam beberapa hal ternyata masih banyak yang harus diperbaiki, terutama bagaimana membuat murid dapat memiliki apa yang sebenar-benarnya mereka inginkan dalam proses pembelajaran, terlebih jikat dikaitan lagi dengan kegiatan pembelajaran dengan lingkungan dan pelibatan komunitas yang betul-betul dapat menunjang tumbuhkembangnya murid, maka sebenarnya semakin banyak PR untuk diri pribadi ke depannya.
Kegiatan pembelajaran di kelas yang sudah dilakukan dalam kaitannya dengan kepemimpinan murid sudah cukup berjalan dengan baik dalam hal voice (suara), karena sesungguhnya saya pribadi memang lebih suka mendengar apa yang murid-murid inginkan, tetapi kemudian dalam langkah selanjutnya adalah menjadi hal yang harus diperbaiki.
Perbaikan untuk mewujudkan kepemimpinan murid dalam hal menciptakan / mencari lingkungan yang dapat menunjang, terlebih jika dalam membuat program/kegiatan pembelajaran yang dapat saling menguatkan antara intrakurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler. Hal tersebutlah yang menjadi sebuah pemikiran untuk ke depan dalam rangka meningkatkan kompetensi diri supaya dapat memahami dan membuat lingkungan yang melatih pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, lingkungan yang melatih keterampilan berinteraksi sosial, lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan, lingkungan yang melatih menerima dan memahami kekuatan diri, lingkungan yang melatih menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, lingkungan yang melatih menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif, lingkungan yang melatih menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh.
Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita dapat menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut?Menempatkan murid sebagai mitra tentunya menjadi salah satu jawabannya, tetapi jika diingat bahwa semua dalam ekosistem sekolah memegang kendali pada perannya masing-masing, tentunya ini juga menjadi tantangan tersendiri lagi ke depannya. Dan jika dikaitkan dengan kegiatan pendidikan yang harus terus berkembang adalah bagaimana menjawab tantangan dari kewajiban semua hal tersebut itu adalah kesejahteraan murid yang optimal, sebuah keadaan emosional yang berkelanjutan dan menyeluruh.
Program/kegiatan yang menyeluruh di tingkat sekolah pun menjadi sebuah tantangan tersendiri, meski secara kultur tidak terlalu heterogen. Tetapi jika dikaitkan dengan kepentingan dalam sebuah ekosistem maka terkadang akan terjadi pertentangan. Mereka (murid) adalah anak-anak yang terlahir dengan perubahan kebudayaan yang cepat dengan tuntutan zaman yang sangat tinggi dan tantangan bagi mereka menjadi sangat kompetitif. Sebagai contoh adalah budaya tutur dengan kalimat yang beretika.
Begitu mudahnya akses mencari berbagai informasi dengan perkembangan teknologi menjadikan murid dalam hal tutur sedikit jauh dari kata kesopanan, hal tersebut yang menjadi salah satu penyebabnya adalah justru para tokoh ternama yang malah kurang menyadari bahwa apa yang mereka ucapkan telah menjadi dampak yang menggerus budaya luhur dalam bertutur kata. Untuk sementara solusi dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan memilih materi-materi dengan muatan budaya lokal, sehingga paling tidak para murid dapat mengetahui kembali budaya luhur sebagai identitasnya yang wajib dipertahankan.
Kegiatan belajar mengajar yang dulu dilakukan sebagian hanyalah sebuah kegiatan pembelajaran tentang pendidikan dan pengajaran dalam konsep jati diri, maka ke depannya adalah bagaimana kegiatan pendidikan dan pengajaran dapat berimbas baik bukan hanya terhadap diri tetapi juga dapat menuntun diri dan mempengaruhi dengan baik di lingkungan sebagai kodratnya menjadi manusia.
Kepemimpinan murid dalam konsep bagaimana murid dapat diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide dan gagasan (Suara), membuat dan menentukan pilihan dalam pembelajaran sehingga murid akan merasa memiliki sehingga kegiatan pembelajaran menjadi semakin berkualitas. Mengatasinya dengan menempatkan posisi kontrol guru sebagai manajer dan melakukan segitiga restitusi dalam permasalahan yang dihadapi murid yang berkaitan dengan kebutuhan belajar murid yang berdiferensiasi. Meskipun masih terbesit sebuah pertanyaan berkaitan dengan bagaimana jika salah satu lingkungan yang telah dijabarkan sebelumnya menghadapi permasalahan?atau bagaimana jika dalam mewujudkannya ternyata tidak menyeluruh/hanya sebagian besarnya saja?BADRA
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap