
BIASA ITU, DIPAKSAKAN.
BIASA ITU, DIPAKSAKAN.
Oleh: Achmad Nur Hadi
Biasa itu, karena kebiasaan. Kebiasaan adalah sesuatu hal yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Namun, kebiasaan melakukan sesuatu butuh perjuangan yang serius dan terus-menerus. Seperti contoh seorang muslim yang istikamah salat lima waktu berjamaah di masjid atau di mushalla. Sudah pasti awalnya gagal.
Biasa itu, butuh latihan. Masih contoh salat berjamaah. Ketika azan dikumandangkan, segala pekerjaan apa pun wajib dihentikan. Jangan banyak ‘mikir’. Cepat tinggalkan kesibukan. Sibuk dan sibuk. Semua sibuk alasannya. Kalau itu jadi penguatnya untuk tidak bisa salat berjamaah, ya sudah. Itu telah menjadi kebiasaanya. Artinya, kebiasaan tidak menghiraukan panggilan untuk salat.
Kalau begitu, betulkah kebiasaan itu perlu dipaksakan? Bisa ya. Bisa tidak. Tergantung kebiasaan melakukan apa? Jika seseorang terbiasa memakai baju sembarangan, tanpa dipikir pantas tidaknya. Ini soal lain. Bukan kebiasaan yang harus dipaksakan.
Ada lagi kebiasaan yang tidak harus dipaksakan. Membuang sampah seenaknya. Itu bisa dilakukan dengan sengaja atau tidak. Coba lihat! Masih banyak orang membuang sampah sembarangan. Terlepas disengaja atau tidak. Mungkin itu sudah kebiasaannya. Nah, yang seperti ini membuang sampah pada tempatnya, harus dipaksakan. Wajib dilakukan terus-menerus. Meski awalnya lupa, karena belum terbiasa.
Masih mau contoh lagi? Ok. Buktikan sendiri! Lakukanlah suatu kebiasaan baru. Lima belas menit sebelum azan dikumandangkan, segera bergegas mengambil air wudu. Tinggalkan pekerjaan yang memang sebagai penghalang. Selama enam hari berturut-turut, disambung enam hari lagi tanpa henti. Setelah dua belas hari memaksakan diri untuk menghentikan segala aktifitas untuk salat. Lakukan kembali enam hari berikutnya, ditambah enam hari lagi tanpa henti. Rasakan hasilnya. Kebiasaan salat berjamaah mulai mudah dikerjakan. Meski sesibuk apa pun.
Masih belum percaya? Kebiasaan itu terbagi dua. Ada kebiasaan yang bermula harus dipaksakan untuk membiasakannya. Ada juga kebiasaan yang sulit untuk dihentikannya. Kebiasaan merokok. Awalnya tidak biasa. Kalau sudah terbiasa maka, sangat sulit untuk tidak merokok. Biasa menutup pintu dengan keras. Kebiasaan ini juga agak sulit dihindari. Benarkah kebiasaannya memang begitu? Membiasakan menutup pintu dengan pelan, itu yang harus dilatih dan dipaksakan. Dengan demikian biasa itu, perlu dipaksakan. Anda boleh tidak sepakat.
Bondowoso kotaT@pe,
Renungan sebuah kebiasaan yang berkarakter.
20201224/07:49
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Kebiasaan melahirkan akhlak...salam..literasi.salam untuk kota Tape Bondowoso....say sdh 3 kali ke Bondowoso...singgh di masjid Agungnya juga. ..sangat indah...
KALAU Ke Bondowoso lagi mampir ya?
Ulasan yang bermanfaat. Sukses selalu buat Bapak
Aaamin ya Mujibassailin. Kita saling doa semoga Allah memberkati kita.
Betulkan Bu, kalau nggak dipaksakan ya tetap aja belum terbiasa. Maksudnya terbiasa yang positif.
Tulisan yang mencerahkan. Sukses selalu, Pak.
Terimakasih. Salam literasi.
Yap, setuju bapak. "habit" membutuhlan 20-60 hari supaya bisa tertanam dan terbiasa. Harus selalu dikerjakan baik dikerjakan dengan hati terpaksa atau tidak. Alangkah indahnya jika dikerjakan dg senang hati dan penuh keikhlasan. Pasti akan menghasilkan yang luar biasa.
Benar sekali, dalam kebaikan harus ada pembiasaan
Mantap pak ulasannya mencerahkan
Ulasan yang mencerahkan, Pak. Kebiasaan baik sering harus dipaksakan... Salam sukses, Pak.