Anik Zahra

Anik Zahra adalah nama pena dari NI'MATUZ ZAHROH. Ia adalah seorang guru Bahasa Inggris di MTsN 5 Jombang, seorang ibu dari tiga orang anak, dan penyuka mu...

Selengkapnya
Navigasi Web
Bus Puspa Indah Nomor 69

Bus Puspa Indah Nomor 69

#TantanganGurusiana

#Tantangan_365HariMenulis

#Tantangan_Hari_Ke18

Bus Puspa Indah Nomor 69

Penulis: Anik Zahra

Selepas subuh, aku berjalan seorang diri di tempat pemberhentian bus Puspa Indah menuju Malang. Ketika memasuki bus nomor 69, seperti ada yang berbeda hari ini. Mungkin aku terlalu pagi sehingga semua terlihat gelap, ditambah lampu di dalam bus tidak dinyalakan sehingga aku tidak dapat melihat jelas orang-orang yang ada di dalamnya. Semua bangku sudah terisi kecuali satu bangku kosong yang sekarang telah aku duduki. Bus berjalan dengan perlahan namun tidak berhenti untuk mencari penumpang lagi.

Selama dalam perjalanan, bus terasa sepi dan sunyi, padahal penumpang penuh. Tak ada suara orang ngobrol atau mengotak-atik ponselnya sekedar untuk update status. Sampai akhirnya kenek bus menghampiriku. Aku langsung membayar ongkos kepada kenek tersebut.

“Apa mungkin para penumpang masih mengantuk sehingga terlihat tak berdaya?” batinku sambil memperhatikan kembali sekelilingku. “Kayak zombie aja!” gerutuku. Pikiranku terlalu menerawang kemana-mana memikirkan hal tersebut. Hingga akhirnya, bus masuk ke terminal Landungsari tepat pukul 6 pagi.

Besoknya, kembali aku melakukan perjalanan yang sama dengan kemarin. Aku mendapatkan bus yang sama pula, Puspa Indah nomor 69. “Apakah nanti aku akan mengalami kejadian yang sama?” Kembali batinku riuh bercakap. Hanya ada satu buah kursi tersisa dan letaknya paling belakang di pojok kanan.

Keanehan masih kurasakan. Kali ini, para penumpang berbicara tanpa berhenti sejenak pun untuk menghela napas. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, bahasa mereka terlalu cepat dan berantakan. Semua itu membuatku merasa pusing. Kuambil headset dari ranselku, kemudian kudengarkan musik dari ponselku. Tanpa sadar aku tertidur di sepanjang perjalanan dan terbangun saat bus sudah berada di terminal Landungsari.

Rutinitas pagiku beberapa hari ini sungguh aneh kurasakan. Hingga di suatu pagi yang masih gelap, seperti biasa aku naik bus pada jam yang sama. Dan anehnya lagi, busnya juga selalu sama, Puspa Indah nomor 69. Kali ini kurasakan tubuhku terasa gemetar, entah apa yang membuatku merasa ketakutan begini. Bulu kudukku tiba-tiba merinding ditambah dengan suasana yang begitu dingin, angin menghembus di sekeliling tubuhku.

Kuperhatikan para penumpang di sekelilingku, tidak ada yang aneh. Beberapa orang ada yang tidur, ada yang sedang mengobrol, dan ada yang sedang menelepon. Ketika kenek bus mendekatiku, kuambil uang dalam tasku, tanpa sengaja tanganku tersentuh orang yang ada disampingku. Aku terkejut, kurasakan tubuhnya begitu dingin seperti es, “Uhh … dingin sekali kayak di kulkas!”

Suasana gelap kali ini membuatku takut. Aku mulai berpikir yang macam-macam. Tiba-tiba sebuah benda jatuh. Benda berbentuk bulat sebesar bola pimpong, berwarna putih namun ada bulatan hitam. Ternyata itu sebuah mata dengan urat-uratnya yang terlihat berwarna merah. “Ahh … aku hanya berhalusinasi,” gumamku meyakinkan diriku. Kulihat orang disampingku itu mengambilnya dan memasangkannya ke dalam matanya. Tubuhku pun mulai berkeringat.

Kualihkan pikiranku tentang hal yang aneh itu. Di seberang bangku tempatku duduk, ada seorang pemuda seusiaku yang berpenampilan rapi layaknya seorang mahasiswa. Lalu kucoba untuk berbicara dengannya.

“Turun di mana, Mas?” tanyaku dengan sesantai mungkin. Meskipun kenyataannya tubuhku semakin tidak dapat bergerak dan semua syarafku tiba-tiba berhenti.

Pemuda itu diam beberapa detik. Lalu menjawab dengan nada pelan.

“Saya tidak akan turun dan tidak akan pernah turun untuk selamanya.”

Aku menelan ludah untuk menahan ketakutan yang semakin menjadi-jadi. Kata-katanya sangat mengejutkanku. Aku sudah tahu bahwa dia bukan manusia biasa, aku tidak lanjut untuk bertanya kembali. Perasaanku mengatakan bahwa mereka semua benar-benar seperti zombie. Tidak adakah manusia yang sama seperti diriku sehingga kami bisa saling menolong satu dengan yang lain?

Dalam ketakutan dan kegelisahanku, aku sempat berpikir, tidak mungkin aku selalu naik bus yang sama pada jam yang sama dengan penumpang yang sama dan hanya ada satu bangku kosong untukku. Aku tidak mau mereka menyadari bahwa aku telah mengetahui identitas mereka, aku berusaha untuk tidak terlihat seperti orang yang sangat ketakutan karena melihat hantu. Meskipun Terminal Landungsari masih jauh, aku ingin cepat-cepat turun.

Di tengah perjalanan, aku nekat berdiri untuk segera turun. Seketika mata mereka semua tertuju padaku, wajah mereka yang pucat menatapku dengan sangat dingin. Tanpa berucap sepatah kata pun aku tahu bahwa mereka ingin melarangku turun. Aku tetap berniat untuk turun, kulangkahkan kaki menuju pintu agar bisa keluar dari bus yang misterius ini.

“Pak Pir, saya turun sini, Pak!” teriakku memecah keheningan. Jantungku semakin bedegup kencang dan napasku terengah-engah. Namun sial, sopirnya nggak mau berhenti meskipun aku sudah mengetuk atap bus tanda akan turun.

Aku semakin tidak berkutik, tubuhku terasa kaku dan tak bisa digerakkan. Kupaksakan kakiku bergerak agar bisa melompat meskipun bus sedang berjalan. Sekujur tubuhku berkeringat, mataku basah, aku ingin menangis dan berteriak sekeras-kerasnya. Namun percuma saja, tidak ada yang memperdulikanku. Sebaliknya, mereka semua berdiri dan melangkahkan kakinya sambil menjulurkan tangannya menuju ke arahku. Dengan sekuat tenaga, kupejamkan mata dan kupaksa kakiku melompat keluar bus. Tubuhku terjatuh di atas aspal, kaki dan tanganku terluka. Kurasakan nyeri di sekujur tubuhku yang terpelanting jatuh. Setidaknya aku selamat dari zombie-zombie yang ada di dalam bus Puspa Indah nomor 69 tersebut.

Setelah kejadian itu, aku nggak pernah lagi naik bus Puspa Indah. Bus yang penuh dengan zombie-zombie mengerikan. Konon kudengar kasak-kusuk tentang kecelakaan bus Puspa Indah yang masuk jurang dua minggu yang lalu. Semua penumpang yang ada di dalam bus tewas terpanggang, karena setelah bus terjun ke jurang lalu meledak pada jam 5 di pagi hari. Nomor bus itu 69, sebuah kebetulan yang menakutkan. Aku berusaha untuk melupakan kejadian itu dan menjalani hidupku dengan normal. Kini, bus Puspa Indah sudah almarhum, sudah berganti nama menjadi bus Bagong.

➖➖➖

Jombang, 26 Juli 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Keren bu , saya adalah penumpang setia puspa indah yg sekarang jd bagong

05 Aug
Balas



search

New Post