Senja di Pelabuhan
Sebenarnya aku lebih suka menulis puisi. Namun, di Gurusiana tidak menyediakan "puisi", sehingga aku menuliskannya di "cerpen". Kalau di Gurusiana ada "Puisi", mungkin penulisnya akan membludak. Saran saja ya buat redaktur Gurusiana untuk menyediakan rubrik "Puisi".
SENJA DI PELABUHAN
Oleh: Badai Muth. Siregar
Di pelabuhan ku lihat kapal-kapal datang dan pergi
Setiap hari
Dari senja ke pagi dan ke senja lagi
Awan di birunya langit berubah warna
Kadang putih pucat, kadang gelap pekat
satu yang tak berubah hanyalah
kesetiaan ombak membelai pantai
seperti udaha yang keluar dari hidung
dan masuk kembali melewati paru-paru
dan terhenti jika kesetiaan itu pergi
Senja di pelabuhan
seorang perempuan tak jemu menunggu
entah sampai kapan
13 Juli 2017
Menulis di sela Rapat Kerja Persiapan Mengajar TP. 2017-2018
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Sudah pernah dibahas. Kesimpulannya: tulis saja puisi di bagian Cerpen. Tulisannya luar biasa.
Pak Leck nyeneng-nyenenginaku aja....tetep aja 10. hehehe.
Saya suka dengan, "seorang perempuan tak jemu menunggu. entah sampai kapan."
Kasihan ya...
Bagus puisinya, bu...
Terima kasih. Puisi sederhana
Asa yang tetsisa. Salam.
Salam juga Pak Wiyono....