Ainul Ilmi Utiyad Darojah

Ilmi adalah guru Matematika di MAN 2 Jember. Yaps... dia adalah guru yg suka sastra tapi terjebak di matematika. Tak heran, saat kuliah, dia satu-satunya mahasi...

Selengkapnya
Navigasi Web
SEANDAINYA IBU TAHU

SEANDAINYA IBU TAHU

Sarasehan Alumni PGA dan Civitas MAN 2 Jember. Sebuah judul acara yang menurutku sangat menyebalkan. Bagaimana tidak sebal, kalau judul itu membuatku ingin menangis. Ya, aku guru MAN 2 yang tak bertubuh langsing rasanya tak pantas menangis. Tubuh besarku terlihat sangat kuat dan tabah. Kubendung air mata ini dengan sekuat tenaga. Sebisa mungkin air mata ini harus tetap tersembunyi.

Bapak dan Ibuku guru sepertiku. Bapak guru Agama, dan Ibu guru Ilmu Ukur dan Ilmu Hitung. Keduanya pernah mengabdi di PGAN Jember. Tetapi Bapak berpindah di SMEA Negeri 1 (sekarang SMKN 1 Jember) dan terakhir di SPG Kartini (sekarang SMK Kartini). Sedang Ibuku, ceritanya sangat menyiksaku sejak kecil. Cerita yang akhirnya membuatku ingin menjadi guru Matematika. Menggantikannya. Aku anak ke empat dari lima bersaudara. Dengan jarak yang berdekatan. Hanya selisih dua tahun dari tiap anak. Duh, tak terbayang repotnya Ibu kala itu. Dilema antara karir atau mendidik anak. Sehingga, saat aku lahir Ibu membuat semua orang syok. Menyayangkan keputusan Ibu. Ya, Ibu dengan segala ketulusannya mengembalikan SK PNS-nya. Berhenti menjadi seorang guru. Memilih melindungi keempat anaknya. Sendiri. Tanpa seorang pembantu lagi.

Ekonomi keluarga seketika berubah menjadi sangat kekurangan. Tapi Ibu tak pernah menyesal dengan segala keputusannya. Berbeda denganku. Aku menyesali keputusan Ibu. Aku sedih. Sejak balita banyak orang yang menyalahkanku. Aku dianggap merusak ekonomi keluarga. Meski Ibu dan Bapak tak pernah menyalahkanku. Tapi hati ini terasa teriris-iris. Selalu.

Setelah puluhan tahun menahan sesak di dada. Dan setelah belasan tahun menjadi seorang guru. Tetiba Allah SWT memberiku hadiah yang tak terhingga. Ya, kini aku mengajar di MAN 2 Jember. Yang dulunya bernama PGAN Jember. Tempat Ibu mengabdi dulu. Tak terperi rasa bahagiaku. Serasa membayar pengorbanan Ibu dulu. Meski aku tahu pengorbanan seorang Ibu, tak akan mampu dibayar sebesar apa pun. Tapi paling tidak, aku merasa posisi Ibu dulu kembali lagi. Melalui aku.

Kebahagian yang seharusnya Ibu saksikan dan rasakan sendiri. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Perbedaan frekuensi telah menghalanginya.

Andai Ibu di sini, ingin kusalurkan rasa bahagiaku ini. Andai Ibu di sini, kucium kakinya dengan segenap jiwa. Meski kelahiranku bukan salah siapa-siapa. Bukan salahku, juga bukan salah Ibu ataupun Bapak.

Seandainya Ibu tahu... saat ini aku ingin bertemu. Bersama. Di acara yang sama.

Peluk cium untuk Bapak dan Ibu. Semoga tenang di sana. Semoga bahagia di Surganya Allah SWT. Aamiin... Allahumma Aamiin...

Jember, 12 Juni 2021 Pojokan MAN 2 Jember

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Bagus cerpennya, Bu Ainul Ilmi. Salam kenal. Mari budayakan SKSS. Salam literasi.

13 Jun
Balas

Terima kasih... salam literasi juga

16 Jun

Cerpen keren

12 Jun
Balas

Makasih bunda...

12 Jun

Meleleh ...

12 Jun
Balas

Cup kak... aku tahu kakak juga sepertiku. Meski cerita kita sedikit berbeda

12 Jun

Cup kak... aku tahu kakak juga sepertiku. Meski cerita kita sedikit berbeda

12 Jun

Keren bun terasa mengaduk emosi jiwa.

13 Jun
Balas

Terima kasih bunda

16 Jun



search

New Post