Ainul Ilmi Utiyad Darojah

Ilmi adalah guru Matematika di MAN 2 Jember. Yaps... dia adalah guru yg suka sastra tapi terjebak di matematika. Tak heran, saat kuliah, dia satu-satunya mahasi...

Selengkapnya
Navigasi Web
JODOH DARI SIGNAL (Bagian 5)

JODOH DARI SIGNAL (Bagian 5)

Pagi-pagi sekali sudah ada pesan masuk dari Jaka,

[Assalammualaikum Gadis]

[Sudah Sholat Subuh kan]

[Ngobrol dengan kamu kemarin asyik, kamu ramah, humoris, aku suka]

[Maukah jadi pacarku...]

Jantungku bertalu lebih kencang. Bukankah baru telpon sekali, itu pun baru tadi malam. Tapi terus terang aku sudah pengen melompat-lompat di atas kasur, saking bahagianya. Entahlah... apalagi kulihat Ibu juga antusias dari awal. Padahal tiap ada teman cowok ke rumah, Ibu selalu antipati. Kecuali pada Alex tentunya. Belum juga mereda genderang di jantungku, ada pesan masuk,

[Aku tahu ini terlalu cepat]

[Gadis tak perlu menjawab sekarang, difikir dulu saja]

Ah... mungkinkah ini jodohku, bagaimana kalo Jaka lebih muda? Seperti bisa membaca fikiranku, ada pesan masuk lagi,

[Usiaku 32 tahun, kelahiran 21 September]

[Aku sudah tua ya,tapi nggak malu-maluin kok kalau bersanding dengan Gadis]

[Kalau nggak mau nggak apa-apa juga. Tapi kalau bisa sih mau]

Ha-ah? Lagi-lagi aku tercekat, bagaimana bisa hari lahirnya sama denganku? Apakah ini hasil iseng Alex lagi? Pasti dia yang kasih tau tanggalnya. Benarkah beda lima tahun? Seperti ada telepati, Jaka mengirim pesan gambar. Sebuah gambar KTP dengan foto tampannya lengkap dengan nama dan tanggal lahir beserta alamat. Ya iyalah lengkap, namanya juga KTP. Pikiranku makin tak waras. Tak bisa berfikir jernih. Tapi kuberanikan diri membalas pesannya,

[Kak Jaka, ini bukan masalah cepat atau lambat, sebenarnya ngobrol dengan Kak Jaka seru. Gadis suka. Tapi Gadis takut Kak Jaka kecewa. Gadis tidak cantik dan tidak feminin Kak.]

Sungguh tak terduga. Penolakan halusku disambut berbeda oleh Jaka.

[Alhamdulillah... diterima, Gadis sayang, Kak Jaka mau menerima kamu apa adanya]

[Tapi Gadis cewek pemarah, Kak Jaka ga takut?]

Kupikir pesan balasanku, bisa mematahkan niatnya. Ternyata,

[Tidak apa-apa, kebetulan Kak Jaka bukan orang pemarah. Jadi seimbang kan]

Kali ini aku yang bingung, harus bahagia atau sedih. Semua kejadian ada di luar nalarku.

Bersambung...

Jember, 26 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Eh jadi ketagihan ya...hehe

27 Oct
Balas

keren bingits loh, sukses ya bundek

27 Oct

makasih bunkak sudah mengikuti cerpenku...

27 Oct

Aamiin... makasih doanya... sukses juga buat bunkak

27 Oct

Love at the first talk...??

27 Oct
Balas

Yaps... kadang cinta memang di luar nalar... aneh tapi nyata. Makasih sudah membaca... salam literasi

27 Oct

cerita yg bgus... lnjut...

26 Oct
Balas

Terima kasih Pak...

26 Oct

Wow keyyen..jadi ga sabar...agak panjangan dikit dong yang diupload..

27 Oct
Balas

Maaci.... doain bisa nulis panjang yes...

27 Oct



search

New Post