4ndayo

menulis adalah membaca yang pikiran sekaligus menyampaikan ide dan pikiran untuk membersamai kebaikan...

Selengkapnya
Navigasi Web
SETELAH SEBULAN TAK MENULIS...

SETELAH SEBULAN TAK MENULIS...

Tak terasa waktu, sebulan tak menulis, begitu banyak momen yang tak terkabarkan dalam kisah. Ditengah kesibukan dunia yang menyita. Pasca Ramadhan, tahun ajaran baru bagi siswa dan guru adalah tahun dari awal untuk belajar kembali. Mempersiapkan anak untuk memasuki alam pendidikan baru di suasana new normal (kebiasaan baru). Adaptasi yang dmulai dari proses pendaftaran masuk sekolah hingga setelah diterima disekolah tersebut. Dalam keterbaruan berusaha untuk membersamai kondisi.

Semuanya di lakukan dengan system yang terintegrasi dalam layanan online alias Daring (dalam jaringan). Istilah yang trending, se- trending dengan Covid 19. Wajah-wajah dihadapkan pada layar yang memuat berjuta pesan dan informasi yaitu Ponsel, computer ataupun laptop. Dari sinilah kisah mengalir melaui gelombang data sedemikian laju.

Sebagai guru sekaligus orang tua, perhatian untuk fokus pada keberlanjutan pendidikan anak-anak kami. Memilih tempat untuk mereka berproses dalam bersekolah merupakan hal yang teramat penting. Pilihan jatuh pada sekolah yang lebih mengfokuskan pendidikan aqidah, akhlak. Sekolah berbasis Islam Terpadu,Pesantren atau sekolah yang enggan di sebut pesantren (Boarding School) padahal sama saja. Mondok.

Setiap orang tua tentunya selalu mencari yang terbaik untuk anak-anaknya. Menyekolahkan mereka ditempat yang terbaik pula. Pengalaman menarik di tahun ini. Anak kedua dan keempat bersamaan untuk lanjut ke jenjang pendidikan berikutnya. Lanjut ke Sekolah menengah Pertama dan sekolah dasar. Pilihan telah kami atur untuk mereka akhirnya berubah akibat kondisi yang sama kita ketahui. Dengan terpaksa kami harus membatalkan sekolah yang telah mereka lulusi dari seleksi masuk pada sekolah tersebut. Sang kakak kami daftarkan pada sekolah negeri berbasis agama dan memilih jalur Boarding School. Ini kami tempuh karena disekolah negeri lebih ringan pembayarannya. Sementara sang adik kami daftarkan disekolah berbasis tahfidz Alqur’an yang Alhamdulillah pembayarannya bisa di kompromikan dengan pengelola sekolah tersebut. Namun diluar dugaan, sekolah negeri yang berbasis agama tersebut, ternyata tidak benar kami duga sebelumnya. Sekolah negeri namun berasa swasta. Dengan dalih tidak semua pembiayaannya ditanggung oleh Negara. Ya seperti itu kondisinya. Siswa tetap di bebankan biaya. Mulai dari biaya buku, seragam dan asrama dan SPP bulanan yang jumlahnya berbilang banyak.

Kami Para orang tua yang anaknya lulus dijalur tersebut, sebahagian mengerutkan keningnya. Mengapa tidak, ditengah kebahagiaan mereka. Anaknya lulus seleksi dari sekian banyak peserta harus menerima kenyataan yang tak terduga. Lalu berguman “kemana dana BOS untuk buku?, seperti pada sekolah Negeri lainnya.” Dan “Ooh, ternyata bukan hanya perusahaan Negara yang diprivatisasi tetapi Sekolah Negeripun demikian”. Gumanku. Saat ini, mereka tengah belajar via online (daring). Sementara orangtua siswa masih melakukan upaya untuk mencari solusi agar sekolah tersebut sadar diri akan kondisi saat ini dan keberadaannya sebagai sekolah negeri yang harusnya egaliter.

Kondisi pelik dan telak terjadi ditimpali bencana alam dibeberapa daerah, salah satu contohnya Banjir dan Longsor Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan juga menyisakan kisah ditengah kondisi bangsa yang harus berbenah. Termasuk pendidikan. Ujaran atau lebih tepatnya curhat sebagai orang tua siswa

Nah adapun sebagai seorang guru, kamipun harus mengikuti pembelajaran online yang telah berlangsung dua pekan ini. Beragam cerita berisikan kritikan dan upaya solusi yang terbaik untuk pembelajaran jarak jauh ini. Berbagai metode termasuk aplikasi apa saja yang digunakan dalam pembelajaran online ini terus kami kaji dan diskusikan. Sebagai guru. Pembelajaran online ternyata juga memiliki kendala. Kendala yang sebenarnya lebih banyak dirasakan oleh siswa dan orangtua. Kendala teknis. Masalah biaya kuota, keterbatasan ponsel dan bahkan ada siswa yang tidak memiliki ponsel karena sebahagian besar milik orangtua mereka. Dan meski siswa belajar dengan menggunakan ponsel namun tidak sepnuhnya karena menunggu orangtuanya pulang kerja selanjutnya dipakai oleh siswa bersangkutan. Sekelumit masalah yang menjadi perbincangan persada bahkan viral.

Salah satu contoh Chat dari WhatsAp yang dikirimkan dari grup Mata Pelajaran WA yang berbunyi : “Bismillah, Tabe, Ustadz. Saya mau beri masukan nih. Kalau bisa pelajarannya jangan pakai zoom tapi Ustadz pakai rekaman WA suara yaitu suara ta,kita rekam dan siswa bisa menyimak suara ta dan mengulang ulanginya dan siswa tidak terbebani dengan kuota yang banyak karena memakai via zoom. Kita orangtua siswaa ini sudah bayar SPP dan jangan kita dibebani dengan kuota juga sehingga kita orangtua siswa tidak terlalu dibenai dengan biaya tersebut.”

Beragam komentar via chat dari orangtua. Termasuk curhatan mereka tentang cost yang mereka keluarkan. Karena bukan hanya satu anak yang belajar online. Patut kita merenungkannya. Makanya kami pun berinisatif untuk memberikan pelajaran online tidak secara terus menerus memberi mereka tugas. Dan bila ada pemberian tugas, waktu kami longgarkan. Ini dilakukan karena demi kelancaran belajar mengajar dan terlebih lagi berkah dari belajar mengajar.

Setelah sebulan tidak menulis, kami mendengar kabar yang membuat prihatin karena kawan-kawan kami di beberapa sekolah yang dengan fasilitas yang sangat layak dan termasuk sekolah yang berbayar mahal. 30 % terpaksa harus dirumahkan dulu. Karena orang tua siswa pada sekolah tersebut mengalami kondisi sulit bayar. Segala lini dalam kehidupan ini berdampak. Kepedulian serta kebersamaan adalah hal mutlak selalu dikedepankan. Tunas yang tumbuh harus tetap dijaga dan lestari karena merekalah yang akan mengambil alih peradaban. Peradaban yang bermartabat dan unggul

Makassar, 13 Dzulhijjah 1441 H/ 2 Agustus 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post