Agustinus Maran

Agustinus Maran guru di SMP Negeri Satu Atap Riangpuho, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur....

Selengkapnya
Navigasi Web
WISATA ALAM MENUJU BAHAGIA BELAJAR

WISATA ALAM MENUJU BAHAGIA BELAJAR

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional tahun 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan pidatonya. Salah satu isi pidato tersebut menitiberatkan pada inovasi pembelajaran yaitu 'gerakan merdeka belajar'. Gerakan merdeka belajar bukan hanya jargon kosong sebagai amunisi politik yang ditawarkan Mendikbud hingga menyusup pad tiap tarikan nafas, tetapi pada esensinya memberikan peluang besar kepada lembaga satuan pendidikan untuk siap membentuk barisan panjang terobosan, melakukan inovasi, meneropong sistem pendidikan untuk menciptakan sesuatu yang baru, melakukan pengembangan demi penyempurnaan sesuai situasi dan kondisi unit pendidikan tersebut.

Pada hakikatnya, merdeka belajar adalah upaya menggali semaksimal mungkin potensi peserta didik untuk mengeksplorasi apa yang dimiliki (bakat / minat). Guru sebagai pengajar diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, efisien, bahagia, dan lebih bermakna (pembelajaran aktif). Menjadi suatu pertanyaan, apakah selama ini guru belum menciptakan suasana belajar yang menyenangkan? Jawabannya tentu sudah, namun proses belajar perlu dimodifikasi untuk melejitkan potensi peserta didik tanpa intimidasi.

Menjawab gerakan merdeka belajar dan untuk mencapai bahagia belajar, lembaga pendidikan SMP Negeri Satu Atap Riangpuho merumuskannya dalam satu misi besar yaitu wisata alam. Langkah konkrit yang dipilih (wisata alam) ini tidak semata menarasikan suatu paksaan atau menciptakan penghambat melainkan suatu terobosan yang memungkinkan siswa meraih potensinya sehingga mereka sanggup bergerak lebih jauh, dan juga membantu guru membentuk karakter siswa. Mengapa demikian? Karena saat yang paling membahagiakan bagi anak dan bagi kita semua adalah jalan-jalan (berkunjung/ wisata) ke tempat-tempat tertentu (alam). Jika dikaitkan dengan pembelajaran maka saat seperti itu kita mendapat asupan baru salah satunya adalah membuka kunci pintu untuk masuknya unsur motivasional yang membantu guru dan siswa secara fleksibel menularkan pengetahuan. Momen seperti ini, sekolah (guru dan siswa) dapat menjadikan alam sebagai tempat strategis dalam membentuk, melatih, dan mengembangkan materi pembelajaran.

Wisata alam memberikan kesempatan kepada segenap penddik SMP Negeri Satu Atap Riangpuho untuk membangun relasi dengan lingkungan atau alam, karena pada dasarnya sekolah tidak hanya hanya sekadar batas-batas pagar tetapi menciptakan kultur kehidupan sekolah yang mampu menggemakan nama sekolah.

Pada konteksnya, wisata alam memberi kebebasan kepada guru untuk melakukan pembelajaran di luar kelas (pembelajaran berbasis lapangan) sesuai materi pembelajaran, seperti tempat-tempat wisata atau alam terbuka lainnya dengan tujuan mengkontruksi pengetahuan secara konkret dengan berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran (lingkungan/alam). Misalkan, mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi pembelajaran menyajikan gagasan dalam bentuk teks deskripsi, guru mata pelajaran dapat memfasilitasi dan mendampingi peserta didik untuk berkunjung dan melakukan pembelajaran dengan mengadopsi apa yang diamati, apa yang dirasakan, apa yang didengar dalam bentuk tulisan. Nah, ini akan memberikan sensasi tersendiri kepada siswa yakni lebih menguasai materi dari pada membiarkan mereka di dalam kelas, memaksa mereka untuk menghayal tentang ini dan itu yang tidak tampak mata akhirnya hanya menghasilkan kejenuhan karena tidak ada keseimbangan emosi, juga tidak ada gairah dalam belajar karena kunci kenikmatan tidak membangkitkan insting mereka namun hanya menciptakan luka yang menyenangkan. Luka bagi siswa karena membiarkan pikiran mereka mengembara tanpa tujuan yang jelas dan menyenangkan bagi guru karena berhasil melatih imjinasi mereka, hal ini tentu tidak diinginkan dalam merdeka belajar.

Setidaknya wisata alam memberikan beberapa nilai sentral. Pertama, wisata alam menjawabi gerakan merdeka belajar yang dicetuskan Mendikbud. Di dalam wisata alam tersirat belajar bahagia bagi peserta didik dan guru. Sebab penafsiran terhadap merdeka belajar tentu bermuara pada belajar dengan hati yang bahagia, belajar dengan hati yang bebas dari kekangan siapapun. Maka wisata alam tentu bermuara pada bahagia belajar. Jika guru dan siswa sudah jenuh di dalam kelas maka suplainya adalah alam. Alam akan memberikan hawa baru untuk proses pembelajaran yang menyenangkan. Tinggal kreatifitas dan inisiatif guru untuk mengeksekusinya.

Kedua, wisata alam membangkitkan rasa peserta didik utuk mencintai alam karena di dalamnya siswa diajarkan untuk mengapresiasi keindahan dan keluhuran alam. Dalam konteks ini terbaca jelas nilai karakter yang diharapkan. Wisata alam berusaha mereduksi pengetahuan dan keterampilan siswa dengan berkolaborasi dan menemukan narasumber dalam bidang tertentu.

Ketiga, wisata alam mengoptimalkan imajinasi peserta didik. Bersentuhan dengan alam memungkinkan mereka mendapatkan informasi baru, dan ide-ide baru yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Sesungguhnya wisata alam merupakan integrasi dari belajar yang menyenangkan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post