ARUNGI SAMUDRA (3)
Koko memang tertidur saat kereta mulai bergerak dari kota Yogjakarta. Dia memilih memejamkan mata untuk beristirahat. Hari-hari selanjutnya masih sangat panjang. Koko tak ingin memanfaatkan kebebasan selama di kereta secara berlebihan. Dia hanya ingin istirahat. Saat itu kondisi kereta masih belum senyaman saat ini. Pedagang masih bisa berkeliaran disepanjang gerbong kereta. Untungnya saat itu Pratar berada pada gerbong yang dipesan khusus. Meskipun demikian, jika ingin berinteraksi dengan para pedagang, mereka masih bisa dengan mudah berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Setiap melewati kota pemberhentian, Koko selalu terbangun dari tidurnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di Surabaya.
Pagi hari buta kereta sudah tiba di Surabaya. Beberapa taruna laut senior masuk ke gerbong kereta. Mereka memerintahkan seluruh Pratar untuk segera bergegas membentuk barisan di luar stasiun. Rupanya kereta behenti di stasiun semut Surabaya. Para taruna senior itu adalah para taruna komando. Mereka memiliki jabatan layaknya perwira yang sudah aktif. Hanya saja, jabatan tersebut hanya berlaku di internal kehidupan taruna laut. Benar ternyata informasi dari para taruna Akmil. Mereka pernah bilang bahwa taruna laut wajahnya sangar-sangar. Kulitnya hitam legam, tak pernah tersenyum. Koko melihat rata-rata mereka seperti gambaran yang diterimanya di Magelang.
“Pratar, gerakkannya dipercepat!” perintah taruna tersebut. Mereka yang menjemput Pratar menggunakan baju coklat dengan tali di pundaknya. Warna baju senada dengan warna baret coklat yang mereka kenakan. Pakaian itu yang sering Koko lihat di televisi dan majalah. Pada Pundak kanan dan kiri terdapat semacam hiasan. Hiasan berbentuk jangkar dari logam warna kuning yang ditempel pada kain beludru warna merah. Pada lengan taruna tersebut melekat tanda pangkat yang bentuknya sangat menarik. Warna kuning dan merah berpadu apik pada pangkat taruna tersebut. Ada beberapa taruna yang mengenakan pisau sangkur pada pinggangnya. Dalam hati Koko juga bertanya kenapa tidak semua memakai pisau sangkur ? (Bersambung)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar