Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Riwayat Pendidikan : S.1 Fakultas Dirosat Islamiyyah UIN Syarief Hidayatullah Jakarta S.2 Dirosat Islamiyyah SPS UIN Syarief Hidayatullah Jakarta S.2 Pendidi...

Selengkapnya
Navigasi Web
Sulit Cari Menantu ?
Semua berawal dari masjid untuk melahirkan generasi terbaik masa depan yang memang ekstra hati-hati.

Sulit Cari Menantu ?

Syekh Syah bin Syuja' al-Karmani adalah seorang keturunan raja. Tapi ia lebih memilih hidup sederhana dan menjadi seorang yang zuhud. Ia memiliki seorang puteri yang sangat cantik. Puterinya dilamar oleh penguasa di negeri itu. Syekh Syah berkata, "Beri aku waktu tiga hari untuk berpikir."

Suatu ketika ia lewat di depan masjid. Ia melihat seorang pemuda sedang salat. Ia perhatikan salat pemuda itu begitu tenang dan khusyu'. Ia menunggu sampai pemuda itu selesai salat. Lalu ia mendekati sang pemuda dan bertanya, "Anak muda, apakah engkau sudah beristeri?" Pemuda itu menjawab, "Belum". Syekh Syah berkata, "Maukah engkau menikahi seorang gadis yang shalehah, zuhud, hafal al-Quran dan juga cantik?"

Pemuda itu berkata, "Siapa pula yang mau menikahkanku dengan gadis seperti itu sementara aku hanya punya uang tiga dirham?" Syekh Syah berkata, "Aku yang akan menikahkanmu dengannya. Gadis itu adalah puteriku. Aku sendiri adalah Syah bin Syuja' al-Karmani. Sini uangmu yang tiga dirham itu. Satu dirham aku akan belikan roti. Satu dirham lagi untuk beli lauk. Dirham terakhir untuk membeli parfum."

Akhirnya Syekh Syah menikahkan puterinya dengan pemuda miskin yang saleh itu. Setelah menikah, gadis itu melihat di rumah suaminya ada roti kering. Ia segera memakai selendangnya dan keluar membawa roti itu. Melihat hal itu sang suami berkata, "Sudah kuduga, puteri seorang Syah bin Syuja' al-Karmani tidak akan tahan hidup miskin bersamaku."

Sang isteri berkata, "Demi Allah, aku tidak keluar karena takut miskin, tapi karena kelemahan imanmu. Bagaimana mungkin engkau masih menyimpan roti untuk besok?"

Sambil tersenyum bahagia, sang suami berkata: "Astaghfirullah..."

(نزهة المتأمل ومرشد المتأهل للإمام السيوطي ص ٣٤)

Sah-sah saja seorang ayah memiliki standar tertentu untuk calon menantunya. Sah-sah saja seorang gadis juga memiliki standar tertentu untuk pendamping hidupnya. Demikian juga dengan seorang pemuda. Tapi pada akhirnya standar agama tetap yang terbaik dan paling aman.

Kalau seorang pemuda tidak bisa menjaga kewajibannya kepada Rabb-nya, bagaimana mungkin ia diharapkan menjaga kewajibannya kepada keluarganya? Kalau seorang gadis tidak bisa menjaga kehormatan dirinya, bagaimana mungkin ia diharapkan mampu menjaga kehormatan suami dan keluarganya?

Standarnya sederhana saja yaitu "kesalehan". Bukan harta, paras, posisi, apalagi semazhab atau semanhaj. Kesamaan rasa dan pola pikir itu penting. Tapi tidak berarti itu menjadi syarat utama dalam memilih pasangan hidup. Justeru kesamaan rasa dan pola pikir itu sering lahir setelah menikah kalau niat dan prosesnya benar.

Mumpung sebentar lagi ramadan, tak ada salahnya para ayah melakukan 'penjajakan' awal di masjid. Mungkin tak cukup sekali dua kali. Tak cukup juga hanya di masjid. Perlu tahu kepribadiannya melalui interaksinya dengan masyarakat, kepeduliannya pada orang lain dan seterusnya. Tapi tetap, semua berawal dari masjid. Untuk melahirkan generasi terbaik masa depan yang memang ekstra hati-hati.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen ceritanya, Pak. Salam literasi

14 Mar
Balas



search

New Post