Abdul Rahman, S.Ag

Abdul Rahman , lahir di Pulau Terap , Kampat Riau Indonesia . Lahir pada hari Jumat , 22 Des 1972. Masuk SD 1980, MTsN 1986, MAN 1989, dan masuk IAIN Susq...

Selengkapnya
Navigasi Web

KEMBALI KE TEPI HUTAN ( 3 )

KEMBALI KE TEPI HUTAN ( 3 )

Ada sesuatu yang berbeda kurasakan ketika aku berada di kelas satu bersama mak ngaku dan dikelas dua bersama orang tuaku. Di sekolah yang baru , meskipun jauh, tetapi aku merasa semua guru bersimpati kepadaku. Dan aku selalu mendapatkan nilai yang bagus. Baik di kelas padi ( SD ) maupun di kelas sore ( MDA ). Rasanya apapun yang diajarkan guru cepat dicerna tanpa hambatan. Apalagi di MDA semua mater yang diajarkan langsung mengerti dan cepat hafal. Di SD aku selalu rangking dua atau tiga. Tetapi di MDA aku selalu rangking satu Dan rangking duanya selalu sepupuku anak mak cikku, dia namanya Murni. Orang – orang selalu mengolokku bahwa dia adalah calonku nanti kelak jika aku dewasa.

Pernah suatu kali , kami pulang MDA, hari hujan lebat , kami basah kuyup. Kami tetap melanjutkan perjalanan karena perjalanan kami masih jauh , takut kemalaman dan kegelapan. Ketika itu guruh, petir bersahutan menggelegar. Ada rasa takut , tetapi kami tetap tidak menghentikan langkah, sekalipun sudah banyak yang menyarankan , singgahlah dulu, tunggu hujan sampai reda. Kan nanti akan dijemput ayah kalian, begitu katanya. Kamipun melanjutkan perjalanan, hampir petir menyambar kami, dan hampir rasanya membawa kami ke alam baqa. Masih bisa ku ingat bau belerang dari petir tersebut , seolah berasap, dan ketika kami menunduk secara reflek. Ternyata petir menyambar pohon kelapa yang ada di bebelah kanan kami, petir itu datangnya dari arah kiri . Sebelah kiri kami itu adalah sungai Kampar. Atas kejadian itu kami menggigil kedinginan, lemas dan takut. Untunglah ada seorang bapak yang mengantarkan kami pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, kami disuruh mandi , menyirami seluruh badan. Karena menurut orang kampung , kalau sesudah mandi hujan harus mandi dan menyirami kepala, kalau tidak dilakukan, maka akan demam atau sakit keesokan harinya. Setelah mandi , kami berangai di dekat tungku dapur untuk menghangatkan tubuh. Setelah agak baikan baru dilanjutkan dengan makan malam.

Kami yang dari keluarga sangat sederhana, melaksanakan makan malam bersama. Tetapi jangan pula dibayangkan akan ada bayak makanan, sambal, sayuran dan buah – buahan yang sudah tersusun rapi di meja makan. Tidak sama sekali. Yang masih saya ingat, ibuku tealah membagi jatah makan kami di dalam piring kara. Besar atau kecil mendapat porsi sama. Sedikit nasi, lauk pauk atau sayur seadanya . Yang sudah ditakar, andai kita berhenti berharap bisa tambah. Itu sama sekali tidak pernah terjadi.

Ayahku menyekolahkanku dan kakakku dekat mak ngaku karena tempat tinggal kami semula tepi hutan itu jauh dari sekolah, berjalan kaki 3 KM dari rumah.Namun karena nilai kami semua rendah, akhirnya ayahku memindahkan kami ke sekolah yang jauh tersebut dan kami kembali tinggal di tepi hutan. Alhamdulillah nilai raporku sejak itu selalu bagus dan cukup membanggakan.

Ketika tamat SD , aku pindah lagi ke rumah mak ngaku karena aku akan mendaftar ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Kuok Bangkinang. Madrasah tersebut jauh sekali dari rumah kami yang di tepi hutan tersebut. Namun aku telah menemukan gaya belajar dan nilaiku tidak lagi pernah mengecewakan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post