Guru Impor dan Guru Lokal
Ikut Beropini . . . Wacana tinggal wacana. Bisa mentah bisa juga matang. Tergantung penggodokannya, pengolahannya dan pengatur takaran bumbunya. Ibarat baking kue, ada salah satu bahan yang kurang atau treatment yang salah, maka hasil kuenya bisa bantat bisa juga berhasil melebihi yang punya resep asli. Wacana mengimpor guru dari Luar Negeri itu sah-sah saja. Namanya juga keinginan untuk mencapai target yang lebih baik lagi. Namun, orang yang berwacana tersebut sudah melakukan proses yang maksimal belum? Dipertimbangkan belum baik dan buruknya? Banyak opini guru disini yang saya saring. Semua bagus dan beralasan. Sehingga saya bisa menarik kesimpulan yang mungkin semua orang juga memikirkannya. "Iya, menteri mah seenak dewek gonta ganti kurikulum, gak memikirkan guru yang dibawah praktek langsung dilapangannya seperti apa. Enak dia mah cuma tinggal ngomong doang teken keputusan dan nerima duitnya, lah kita yang sekarat babak belur menerapkannya dibawah." Itu seuntai kalimat yang masih saya hafal dari Seorang kepala sekolah Dasar Negeri yang sekarang sudah pensiun dimakan usia. Tentu saja bukan hanya Kepsek tadi yang berpendapat begitu. Saya pribadipun yang masih bau kencur menjadi guru (mulai ngajar dari tahun 2005), berpendapat sama. Seharusnya, para menteri itu bisa menyaring keluhan dan aspirasi guru dari bawah. Minimal yang jadi menteri pembuat kebijakan soal pendidikan itu orang yang pernah mengajar dari tingkat AUD, TK, SD, SMP, SMA, & Mahasiswa (saya dongπππ). Kenapa??? Iya, biar gak salah ambil bumbu dan bahan. Biar tahu resep yang pas buat dipasarkan ke khalayak ramai sebagai penikmat. Wahai para menteri, coba dong kurikulum dan kebijakan sistem Pendidikan di negara kita saja yang harus diperbaiki. Terus, kalau ingin mendapatkan kualitas guru yang sangat baik, perhatikan juga dong kesejahteraannya. Jadi orang menjadi guru itu tidak hanya sebatas batu loncatan pengisi waktu luang karena sudah tak ada lagi pekerjaan bagus yang bisa didapatkan orang-orang yang berkualitas IQ & EQnya. 1. Duduklah bersama para guru TK dari semua kalangan se-Nusantara. 2. Undang juga perwakilan guru dan kepsek SD/SMP/SMA se-nusantara. 3. Bicaralah dengan para perwakilan Dosen se-Nusantara. 4. Tentukan kurikulum yang sesuai usia anak. Dan terapkan. 5. Tentukan kesejahteraan para guru dari tingkat PAUD sampai PT. 6. Sepakati jam mengajar dan administrasi yang harus di bebankan kepada guru - Dosen. 7. Libatkan perwakilan orang tua, yayasan dan instansi terkait. 8. Ambil sample jangan dari sekolah yang Saprasnya memadai dan berbiaya tinggi. 9. Dengarkan, resapi, nikmati dan keluarkan ide wacana cemerlangmu wahai menteri. Jika engkau tak punya waktu untuk itu, UDAH GAK USAH JADI MENTERI. Diam aja dirumah momong bocah.πππ #adaYangGregetanGak?
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar